![]() |
| Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mencoba langsung Sistem Pembayaran Kontribusi dan Digitalisasi Pasar usai diluncurkan di Pasar Petisah pada Kamis (25/6/2026). Istimewa/Hastara.id |
Peluncuran tersebut ditandai dengan penerapan sistem pembayaran kontribusi pedagang secara nontunai yang terintegrasi dengan perbankan. Melalui sistem ini, seluruh pembayaran retribusi pedagang akan langsung masuk ke rekening PUD Pasar Kota Medan tanpa perantara sehingga dapat dipantau secara real time.
Dalam sambutannya, Rico Waas mengakui pasar tradisional saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan pola belanja masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi digital.
Menurutnya, pasar tradisional harus mampu beradaptasi agar tetap menjadi pilihan masyarakat.
"Masyarakat bilang mereka kurang nyaman karena pasar tidak banyak berubah. Apalagi sekarang semua dinilai dari visual dan masyarakat memiliki banyak pilihan, bahkan bisa berbelanja hanya dengan scrolling melalui telepon genggam," ujar Rico.
Karena itu, ia menegaskan PUD Pasar Kota Medan tidak boleh berjalan di tempat. Digitalisasi, katanya, menjadi kebutuhan agar tata kelola pasar semakin profesional, akuntabel, dan memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun masyarakat.
"Kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan begitu, cara kerja kita menjadi lebih profesional, dapat dipertanggungjawabkan, dan masyarakat semakin nyaman berbelanja di pasar tradisional," katanya.
Rico juga menyoroti sistem pembayaran kontribusi pedagang yang selama ini kerap menjadi perhatian DPRD Kota Medan karena dinilai masih berpotensi menimbulkan kebocoran penerimaan.
Melalui kerjasama dengan Bank Mandiri, seluruh transaksi kini dilakukan secara digital sehingga tidak lagi membuka ruang bagi praktik perantara maupun potongan yang tidak semestinya.
"Hari ini adalah langkah yang berani. Semua pembayaran kontribusi pedagang harus jelas, tidak ada lagi yang aneh-aneh di tengah. Tidak ada istilah potong tengah. Semua langsung masuk dan bisa dikontrol setiap hari secara real time," tegasnya.
Rico memberikan apresiasi kepada Direksi dan seluruh jajaran PUD Pasar Kota Medan yang telah memulai transformasi tersebut. Ia optimistis perubahan ini akan menjadi fondasi bagi pembenahan pasar-pasar tradisional lainnya di Kota Medan.
"Ini baru langkah awal. Perubahan memang tidak mudah, tetapi jangan takut berubah karena ini demi kebaikan bersama. Pasar Petisah dan seluruh pasar di Kota Medan adalah milik masyarakat yang harus kita perjuangkan," pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan, mengatakan digitalisasi bukan sekadar mengubah metode pembayaran dari tunai menjadi nontunai, tetapi menjadi fondasi reformasi tata kelola pasar secara menyeluruh.
"Ini merupakan langkah awal reformasi tata kelola pasar menuju sistem yang lebih modern, transparan, akuntabel, dan profesional. Program ini juga sejalan dengan komitmen Bapak Wali Kota Medan dalam mewujudkan pemerintahan dan BUMD yang bersih," ujarnya.
Menurut Anggia, transformasi digital merupakan respons atas perubahan perilaku konsumen, pesatnya perkembangan teknologi, hingga semakin ketatnya persaingan dengan ritel modern dan platform perdagangan elektronik.
Ia menegaskan, tanpa peningkatan kualitas pelayanan, pasar tradisional akan semakin kehilangan daya saing. Karena itu, digitalisasi kini menjadi kebutuhan untuk menciptakan pasar yang bersih, tertib, aman, nyaman, dan mampu bersaing di era digital. (rel)
