![]() |
| Kolase foto Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga dengan Gubernur Bobby Nasution. Istimewa/Hastara.id |
DPRD Sumut menilai insiden ini tidak sekadar persoalan disiplin individu, tetapi telah menyentuh aspek serius: dugaan penyalahgunaan narkoba di institusi pemerintah dan etika kepemimpinan kepala daerah.
Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga, menegaskan peristiwa tersebut tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, berdasarkan informasi yang diterima, individu yang terlibat diduga berada dalam kondisi sakau saat kejadian berlangsung.
“Informasi yang kami terima menyebutkan ada seseorang yang diduga menggunakan narkoba, bahkan dalam kondisi tidak responsif. Ini sangat memprihatinkan karena terjadi di lingkungan resmi seperti KONI Sumut,” ujar Zeira, Sabtu (11/4/2026).
Akan tetapi sorotan tajam justru mengarah pada respons gubernur. Jika dugaan penamparan benar terjadi, Zeira menilai tindakan tersebut mencederai prinsip dasar kepemimpinan dan supremasi hukum.
“Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak bisa dibenarkan. Seorang pejabat publik harus tunduk pada mekanisme hukum, bukan bertindak secara emosional,” tegasnya.
Zeira menekankan, dugaan kekerasan itu tidak boleh berhenti sebagai isu. Jika ada pihak yang merasa dirugikan, proses hukum harus berjalan sesuai ketentuan.
“Ini delik aduan. Kalau korban merasa ditampar, harus diproses. Jangan sampai muncul kesan pejabat bisa bertindak di luar aturan,” katanya menjawab wartawan, Sabtu (11/4/2026).
Pihaknya juga mengkritik lambatnya kejelasan hasil pemeriksaan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumut terkait dugaan penggunaan narkoba dalam kejadian tersebut. Menurutnya, keterlambatan informasi justru memperkeruh situasi dan menggerus kepercayaan publik.
“BNN harus segera menyampaikan hasilnya secara terbuka. Ini menyangkut kredibilitas institusi dan kepercayaan masyarakat,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Lebih jauh, Zeira menyebut kasus ini sebagai 'alarm keras' bagi sistem pengawasan di lingkungan pemerintahan. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang yang diduga dalam pengaruh narkoba bisa berada di area strategis kantor pemerintah.
“Kalau benar ada yang sakau di lingkungan itu, berarti ada celah serius dalam pengawasan. Ini tidak bisa dianggap insiden biasa,” ungkapnya.
Pihaknya menegaskan dua aspek dalam kasus ini—dugaan penyalahgunaan narkoba dan dugaan penamparan oleh gubernur—harus diusut secara berimbang, transparan, dan akuntabel.
“Jangan hanya fokus pada satu sisi. Dugaan narkoba harus dibuktikan, tapi dugaan penamparan juga tidak boleh diabaikan. Semua harus tunduk pada hukum,” pungkas Zeira.
Gubsu Bobby Nasution sebelumnya naik pitam saat menghadiri acara penyerahan tali asih bagi atlet peraih medali SEA Games 2025 di Kantor KONI Sumut, Jalan Willem Iskandar, Jumat (10/4/2026). Ia menampar seorang pria yang diduga dalam pengaruh narkoba di lokasi acara.
Amatan wartawan di lapangan, insiden terjadi saat Bobby hendak menuju aula di lantai II acara. Di lorong menuju tangga, ia melihat seorang pria dengan kondisi mencurigakan, diduga dalam keadaan sakau dan menggunakan narkoba jenis vape.
Gubernur yang terlihat geram langsung memerintahkan petugas untuk membawa pria tersebut. “Bawa orang ini. Bereskan ini,” tegasnya.
Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol. Tatar Nugroho yang turut hadir segera menginstruksikan anggotanya untuk mengamankan pria tersebut ke salah satu ruangan di sekretariat KONI.
Identitas pria tersebut belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan informasi awal, ia mengaku sebagai sopir salah satu direktur utama BUMD di lingkungan Pemprovsu.
Pihak BNN Sumut masih belum memberikan keterangan resmi terkait status pria tersebut. Humas BNN Sumut, Hary, menyatakan belum dapat berkomentar.
“Belum bisa beri keterangan karena saya tidak mendampingi pimpinan ke acara itu,” ujarnya.
Sementara itu, dari Bagian Rehabilitasi BNN Sumut, Ginting membenarkan adanya pengamanan terhadap seorang pria dari lokasi acara. Namun, ia menegaskan belum dapat memastikan apakah yang bersangkutan positif menggunakan narkoba.
“Menurut pengakuannya, barang itu didapat dari temannya dan baru pertama kali digunakan. Kami masih akan memastikan lebih lanjut,” kata Ginting.
Ia juga membenarkan bahwa pria tersebut mengaku sebagai sopir salah satu petinggi BUMD Sumut, meski informasi itu masih dalam pendalaman. (has)
