Ketua PWI Bonapasogit, Alfonso Situmorang, menilai Taput yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah pendidikan di Sumatera Utara sudah selayaknya memiliki SMA unggulan untuk mencetak generasi muda yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Kerinduan orang tua terhadap hadirnya SMA unggulan di Taput harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap dukungan penuh dari bupati dan wakil bupati agar SMA Negeri 3 Tarutung dapat diproyeksikan menjadi sekolah unggulan,” ujar Alfonso didampingi Bendahara PWI Bonapasogit Candra Sirait serta sejumlah pengurus Januari Hutabarat, Alfredo Sihombing, dan Andoky Manalu.
Menurut Alfonso, peluang menghadirkan sekolah unggulan di Taput sebenarnya terbuka lebar melalui skema sekolah unggul Garuda maupun transformasi sekolah unggul Garuda. Ia menyebut SMA Negeri 3 Tarutung memiliki rekam jejak yang layak diperhitungkan karena banyak melahirkan alumni berprestasi dan siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri favorit.
“Potensi itu sudah ada. SMA Negeri 3 Tarutung punya sejarah panjang mencetak lulusan berkualitas. Sayang jika peluang ini tidak dimanfaatkan,” katanya.
PWI Bonapasogit, lanjut Alfonso, siap mengambil peran strategis untuk mengawal dan mendorong realisasi sekolah unggulan tersebut melalui fungsi jurnalistik dan jejaring organisasi.
“Kami siap menjadi bagian dari perjuangan ini, termasuk mendorong dukungan dari kepengurusan PWI di tingkat pusat,” tegasnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Wabup Deni Parlindungan Lumbantoruan menegaskan bahwa pihaknya memiliki semangat yang sama untuk menghadirkan SMA unggulan di daerah itu.
“Ini bukan sekadar wacana. Sudah menjadi tekad kami agar Taput memiliki sekolah unggulan, apalagi daerah tetangga seperti Toba, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Tengah sudah lebih dulu memilikinya,” ujarnya.
Deni mengaku memiliki kedekatan emosional dengan SMA Negeri 3 Tarutung karena pernah terlibat dalam proses seleksi dan pelatihan guru di Institut Teknologi Del.
“Saya sudah melihat langsung kualitas guru, kedisiplinan, dan kemampuan lulusannya. Potensinya memang sangat besar,” katanya.
Ia menjelaskan, Pemkab Taput telah mulai berkoordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan terkait sejumlah syarat pembentukan sekolah unggulan, mulai dari ketersediaan lahan, yayasan, hingga fasilitas asrama.
“Kami memahami kewenangan SMA berada di pemerintah provinsi, tetapi pemkab juga memiliki tanggung jawab moral karena siswa-siswinya berasal dari Taput,” ujarnya.
Deni menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan dua pendekatan agar SMA Negeri 3 Tarutung dapat bertransformasi menjadi sekolah unggulan. Ia juga berharap sistem penerimaan siswa nantinya tidak lagi semata berbasis zonasi, melainkan mengedepankan seleksi dan prestasi akademik.
“Kalau memang menjadi sekolah unggulan, tentu proses penerimaannya harus berbasis kualitas dan seleksi,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Taput akan melibatkan berbagai elemen, mulai dari alumni, komite sekolah, tenaga pendidik, stakeholder pendidikan, hingga diaspora asal Taput untuk merumuskan langkah percepatan.
“Sesuai arahan bupati, semua pihak akan kami ajak duduk bersama agar cita-cita menghadirkan sekolah unggulan ini bisa segera diwujudkan,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, PWI Bonapasogit menyerahkan rompi organisasi berlogo PWI kepada Wakil Bupati Taput sebagai simbol sinergi dan dukungan terhadap pembangunan daerah. (os)
