TAPUT, HASTARA.ID – Upaya Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melakukan normalisasi drainase di sejumlah titik Kota Tarutung tampaknya belum mampu mengatasi persoalan banjir yang terus berulang. Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Tarutung, Jumat (17/7/2026) sore, kembali merendam sejumlah ruas jalan nasional hingga kawasan permukiman warga.
Genangan air setinggi sekitar 30–40 sentimeter menguasai sejumlah titik, di antaranya Jalan DI Panjaitan, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Dr. Ferdinand Lumbantobing, dan Jalan Diponegoro. Kondisi tersebut menghambat arus lalu lintas, memaksa pengendara sepeda motor berhenti di tepi jalan untuk menghindari kendaraan mogok, sementara mobil harus memperlambat laju sehingga sempat terjadi kemacetan.
Air tidak hanya menggenangi badan jalan, tetapi juga meluas ke halaman hingga teras rumah warga. Bahkan, lapak pedagang di bantaran Aek Sigeaon turut terdampak banjir.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan drainase yang selama ini dilakukan pemerintah daerah. Sebab, pada April 2026 lalu, Pemkab Taput telah melakukan normalisasi saluran drainase di sepanjang Jalan SM Raja, Tarutung, sebagai langkah mengantisipasi genangan air yang kerap terjadi di pusat kota.
Saat itu, Pemkab Tarutung menurunkan alat berat berupa mini excavator dan dump truck untuk mengeruk sedimentasi saluran. Kegiatan tersebut juga diklaim sebagai bagian dari komitmen menjaga fungsi infrastruktur drainase serta mengajak masyarakat tidak membuang sampah ke saluran air. Namun, tiga bulan berselang, banjir kembali terjadi di sejumlah titik strategis Kota Tarutung, termasuk ruas jalan nasional yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat.
"Kalau hujan deras sedikit saja sudah pasti banjir. Air juga lama surut karena parit sepertinya sudah tidak berfungsi dengan baik," kata Panggabean, warga yang sering melintasi kawasan tersebut.
Menurutnya, banjir di Tarutung bukan lagi kejadian baru. Hampir setiap hujan dengan intensitas tinggi, ruas jalan nasional tersebut selalu berubah menjadi kubangan air yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Warga menilai persoalan banjir tidak cukup diatasi melalui pengerukan drainase di beberapa lokasi saja. Mereka berharap pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem drainase Kota Tarutung, mulai dari kapasitas saluran, titik-titik penyumbatan, hingga konektivitas jaringan drainase agar mampu menampung debit air hujan yang terus meningkat.
Selain itu, masyarakat juga meminta pemerintah tidak hanya melakukan penanganan saat banjir terjadi, tetapi menyusun solusi jangka panjang agar persoalan genangan yang telah berlangsung bertahun-tahun tidak terus berulang setiap musim hujan.
Banjir yang kembali melanda Tarutung ini menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah pemda setempat dalam membenahi sistem drainase belum sepenuhnya tuntas. Tanpa evaluasi dan penanganan yang lebih komprehensif, masyarakat khawatir banjir akan terus menjadi langganan setiap kali hujan deras mengguyur ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara tersebut. (os)
