-->

STIKes Sehat Medan Dorong Hilirisasi Kolang-Kaling Langkat Jadi Pangan Nutrasetika Bernilai Tinggi

Sebarkan:

 

STIKes Sehat Medan Dorong Hilirisasi Kolang-Kaling Langkat Jadi Pangan Nutrasetika Bernilai Tinggi

LANGKAT, HASTARA.ID — Kolang-kaling selama ini dikenal masyarakat sebagai bahan pangan tradisional. Namun di Desa Sei Limbat, Kabupaten Langkat, komoditas lokal tersebut mulai didorong naik kelas menjadi produk pangan nutrasetika yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Upaya itu dilakukan Program Studi Farmasi berkolaborasi dengan Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Sehat Medan melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertema “Pelatihan Pengembangan Usaha Pengolahan Kolang-Kaling Menjadi Pangan Nutrasetika di Desa Sei Limbat Kabupaten Langkat sebagai Kearifan Lokal.”

Program tersebut merupakan hibah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026 melalui skema PKM, dengan nomor kontrak 204/C3/DT.05.00/PM/2026 dan 187/SPK/LL1/AL.04.03/PM/2026.

Kegiatan dipimpin Farah Dhiba, SST., SPd., M.Kes., dosen Program Studi Farmasi STIKes Sehat Medan, bersama anggota tim Yoan Dasawanti, S.Farm., M.Farm., dari Program Studi Farmasi serta Ners Sri Wahyuni, S.Kep., M.Kep., dari Program Studi Keperawatan.

Program ini juga melibatkan mahasiswa, yakni Ardiyana Salsabilla dan Azni Zauria Siregar dari Program Studi Farmasi. Kegiatan utama dilaksanakan pada 4 Agustus 2026 di Desa Sei Limbat, Kabupaten Langkat, dengan melibatkan kelompok pengepul dan pengolah kolang-kaling yang dipimpin Rusli sebagai mitra desa.

Desa Sei Limbat memiliki luas sekitar 1.037 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 7.020 jiwa. Lokasinya berjarak sekitar 20 kilometer dari kampus STIKes Sehat Medan. Kolang-kaling menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat. Selain bertani, sebagian masyarakat bekerja di sektor pemerintahan dan sebagai karyawan.

Rusli sendiri telah menekuni usaha sebagai pengepul kolang-kaling sejak 2010 melalui usaha Pengepul Kolang-Kaling Desa Sei Limbat. Dalam menjalankan usahanya, Rusli memberdayakan 12 pekerja lokal yang terdiri dari tujuh laki-laki dan lima perempuan.

Selama ini, kolang-kaling hasil panen masyarakat dibeli Rusli untuk kemudian diproses oleh para pekerja. Prosesnya meliputi pembakaran, pengupasan hingga perendaman sebelum produk dijual ke pasar tradisional pada hari berikutnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim PKM STIKes Sehat Medan mendorong adanya inovasi pengolahan. Tidak hanya menjual kolang-kaling dalam bentuk produk segar atau olahan sederhana, masyarakat diarahkan untuk mengembangkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Melalui program tersebut, kelompok pengepul dan pengolah kolang-kaling mendapatkan pengetahuan serta pelatihan mengenai pengembangan produk pangan nutrasetika. Materi yang diberikan mencakup pengolahan kolang-kaling menjadi tepung, penggunaan teknologi dan alat pengeringan, manajemen pengolahan, hingga strategi pemasaran berbasis e-commerce.

“Tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan usaha pengolahan kolang-kaling menjadi produk pangan nutrasetika yang bernilai tambah tinggi, aman dan berdaya saing dengan tetap berbasis kearifan lokal,” ucap Farah Dhiba. 

Tak berhenti pada pelatihan, tim juga melakukan pendampingan dan evaluasi secara bertahap. Pendampingan dilakukan pada 6 Juli, 20 Juli dan 4 Agustus 2026.

Dalam prosesnya, kelompok mitra dilibatkan secara langsung mulai dari mempersiapkan tempat pelatihan, mengoordinasikan peserta, menyediakan bahan baku kolang-kaling dan peralatan pengolahan hingga melakukan praktik.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah kolang-kaling, tetapi juga membuka peluang lahirnya produk lokal baru yang mampu memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan masyarakat. (rel/ms)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini