-->

Ketika Ring Tinggal Kenangan, Sahabat Datang Membawa Perhatian

Sebarkan:

 

Pengurus teras Perbati Sumut yang dipimpin Zainuddin Lubis diabadikan bersama petinju legendaris Sumatera Utara, Erwinsyah di kediamannya Jalan Angsana Raya, Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (16/9/2026). Kehadiran pengurus untuk menjenguk Erwinsyah yang baru selesai berobat dari rumah sakit dan sedang masa pemulihan. Istimewa/Hastara.id 

Tak ada lagi riuh penonton. Tak terdengar denting bel atau sorak yang dulu mengiringi setiap langkahnya di atas ring. Di teras rumah sederhana di Jalan Angsana Raya, Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (16/9/2026), Erwinsyah hanya duduk santai bersama anak dan cucunya.

PRAN HASIBUAN, Medan

Namun, tubuh tegap dan sorot matanya masih menyimpan sesuatu dari masa lalu. Masa ketika namanya diperhitungkan di atas ring dan bendera Sumatera Utara berkibar di berbagai arena pertandingan. Petinju legendaris Sumatera Utara itu kini tengah menjalani masa pemulihan setelah empat hari mendapat perawatan di rumah sakit.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sahabat lama datang mengetuk pintu rumahnya. Rombongan Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) Sumatera Utara hadir bukan untuk membicarakan pertandingan, medali atau kemenangan. Mereka datang membawa sesuatu yang mungkin jauh lebih berarti bagi seorang mantan petarung, yakni perhatian.

Rombongan dipimpin Ketua Perbati Sumut Zainuddin Lubis, didampingi Sekretaris Benget Simorangkir, Bendahara Muhammad Edison Ginting, serta pengurus lain seperti Irwan Manalu, Ramos Gultom, M. Fakhrusyi dan Adi Syahputra Bangun. 

Begitu rombongan tiba, wajah Erwinsyah seketika berubah cerah. "Selamat datang di kediaman saya," ucapnya menyambut para sahabat.

Senyum itu seperti membuka kembali lembaran panjang perjalanan seorang petinju yang pernah menjadi kebanggaan Sumatera Utara. Erwinsyah, kelahiran Medan, 13 Juli 1955, merupakan salah satu nama besar dalam sejarah tinju Sumatera Utara. Ia bukan sekadar petinju yang pernah naik ring, tetapi bagian dari generasi yang membawa nama daerah hingga ke panggung nasional dan internasional.

Pada SEA Games X/1979 di Jakarta, ia meraih medali perak kelas ringan. Dua medali emas PON juga pernah dibawanya pulang. Prestasinya tak berhenti di sana. Berbagai medali emas diraihnya dalam sejumlah kejuaraan, mulai dari Kejurnas, STE, PON, ASEAN hingga SEA Games. Namanya juga pernah menjadi salah satu bintang dalam ajang Piala Presiden RI pada penghujung era 1970-an hingga awal 1980-an.

Dulu, ring adalah panggungnya. Kini, teras rumah menjadi tempatnya menghabiskan waktu bersama keluarga. Meski usianya telah memasuki 73 tahun, postur tubuh Erwinsyah masih terlihat tegap. Sosok yang dahulu dikenal sebagai stylish boxer itu masih menyisakan aura seorang petarung. Tetapi kali ini ia sedang menghadapi pertarungan yang berbeda.

Erwinsyah menyambut hangat kunjungan pengurus Perbati Sumut di kediamannya. Istimewa/Hastara.id
Berjuang Pulih 

Bukan melawan lawan di atas ring, melainkan melawan masa pemulihan tubuhnya sendiri. Kepada pengurus Perbati Sumut, Erwinsyah mengatakan kondisi kesehatannya mulai membaik setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

"Saat ini kondisi saya sudah berangsur pulih, namun masih membutuhkan perawatan di rumah. Terima kasih atas kehadiran sahabat-sahabat saya dari Perbati Sumut," katanya.

Bagi Zainuddin Lubis, pertemuan itu memiliki makna lebih dari sekadar kunjungan. Ia menyampaikan permohonan maaf karena baru dapat datang setelah Erwinsyah selesai menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, rasa lega tampak ketika ia melihat langsung kondisi sahabatnya yang mulai membaik.

"Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan kesehatan dan kesembuhan kepada sahabat kami, Erwinsyah," ujar Zainuddin.

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan kekhawatiran sekaligus rasa syukur. Sebab, bagi dunia tinju Sumatera Utara, Erwinsyah bukan sekadar nama dalam daftar peraih medali. Ia adalah bagian dari sejarah.

Zainuddin mengatakan perhatian terhadap para legenda merupakan bentuk penghargaan kepada mereka yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan olahraga tinju di Sumatera Utara. 

Menurutnya, perjalanan para mantan atlet tersebut tidak seharusnya berhenti ketika mereka meninggalkan ring. Pengalaman, disiplin dan mental bertanding yang mereka miliki tetap dibutuhkan untuk membentuk generasi berikutnya.

"Kami berharap para legenda tinju selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Pengalaman dan semangat mereka sangat dibutuhkan untuk memotivasi serta membina atlet-atlet muda agar mampu berprestasi dan kembali mengharumkan nama Sumatera Utara," katanya.

Sekretaris Perbati Sumut Benget Simorangkir juga menyampaikan doa yang sama. Bagi Benget, nama Erwinsyah memiliki tempat tersendiri di kalangan insan tinju Sumatera Utara. Perjalanan panjang dan prestasinya menjadi bagian dari cerita yang diwariskan kepada generasi atlet setelahnya.

"Erwinsyah adalah legenda tinju Sumatera Utara. Prestasi dan perjalanan kariernya menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda. Kami mendoakan agar beliau segera pulih dan selalu diberikan kesehatan," ujarnya.

Di akhir kunjungan, Perbati Sumut menyerahkan bantuan sembako dan tali asih kepada Erwinsyah. Nilainya mungkin tidak sebanding dengan medali yang pernah diraih atau panjangnya perjalanan karier sang legenda. Namun, di hari ketika seorang mantan juara tengah menjalani masa pemulihan, perhatian seperti itu memiliki arti tersendiri. Ada pesan yang sederhana dari kunjungan tersebut: mereka yang pernah berjuang mengharumkan nama daerah tidak boleh dilupakan ketika sorotan lampu arena telah padam.

Di teras rumah itu, generasi lama dan generasi yang kini meneruskan perjuangan tinju Sumatera Utara kembali dipertemukan. Bukan oleh sebuah pertandingan. Bukan pula oleh perebutan medali. Melainkan oleh persahabatan, penghormatan dan doa agar seorang legenda kembali sehat.

Karena bagi seorang petarung, kemenangan tidak selalu berbentuk medali. Kadang, kemenangan paling sederhana adalah ketika orang-orang yang pernah berjalan bersamanya masih datang, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, lalu berkata: kami masih mengingatmu. (*)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini