-->

Ancaman Banjir Susulan, Rico Waas Libatkan Rumah Sakit hingga Forkopimda

Sebarkan:

 

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyampaikan kesiapsiagaan Pemko Medan menghadapi potensi banjir dengan menginventarisasi lebih dari 200 lokasi pengungsian yang dilengkapi penanggung jawab dan nomor kontak petugas. Hasby/Hastara.id 
MEDAN, HASTARA.ID — Banjir yang merendam empat kecamatan di Kota Medan dan memaksa 562 warga mengungsi menjadi peringatan serius memasuki puncak musim hujan. Mengantisipasi banjir susulan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menginstruksikan penguatan kesiapsiagaan seluruh jajarannya, termasuk menyiapkan lebih dari 200 lokasi pengungsian yang telah dilengkapi data penanggung jawab dan nomor kontak petugas.

Empat kecamatan yang terdampak banjir akibat hujan deras sejak Rabu (28/10/2026) hingga Kamis (29/10/2026) dini hari tersebut yakni Medan Tuntungan, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan hingga Kamis (29/10/2026) pukul 10.00 WIB, sebanyak 562 warga tercatat mengungsi di sejumlah lokasi penampungan. Jumlah tersebut merupakan warga yang terdata di lokasi pengungsian, bukan keseluruhan masyarakat yang terdampak banjir.

Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari menjelaskan, dari 562 pengungsi tersebut terdapat 39 balita, 170 anak-anak, 270 orang dewasa, 82 lanjut usia (lansia), dan satu penyandang disabilitas. Selain itu, sebanyak 22 warga telah dievakuasi petugas.

Menurut Yunita, dampak banjir juga dirasakan warga yang rumahnya terendam, tetapi memilih bertahan atau mengungsi secara mandiri ke rumah keluarga maupun tempat lain yang tidak masuk dalam pendataan resmi lokasi pengungsian.

Di Kecamatan Medan Maimun, salah satu kawasan yang mengalami dampak cukup besar adalah Kampung Aur. Banjir dilaporkan merendam 220 rumah yang dihuni 430 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.200 jiwa. Angka tersebut merupakan populasi warga di kawasan terdampak, bukan tambahan pengungsi di luar 562 orang yang tercatat BPBD.

Ketinggian air di sejumlah titik bahkan mencapai lebih dari dua meter. Di Gang Merdeka, Kelurahan Sei Mati, misalnya, genangan dilaporkan mencapai 200–220 sentimeter. Sementara di sekitar Kantor Lurah Sei Mati dan Jalan Jembatan Suprapto, ketinggian air berkisar 100–150 sentimeter.

Pengungsian juga tersebar di sejumlah lokasi. Di Kecamatan Medan Tuntungan, sebanyak 25 warga Kelurahan Tanjung Selamat mengungsi di Masjid Ar Rahman. Di Medan Maimun, pengungsi tercatat berada di Kantor Lurah Sei Mati, Masjid Abidin, Masjid Al Husna, serta kawasan Jalan Jembatan Suprapto.

Di Kecamatan Medan Johor, sebanyak 150 warga mengungsi di Musala Al Amin, Kelurahan Gedung Johor. Sebanyak 150 warga lainnya menempati rumah-rumah warga yang lebih tinggi di kawasan Gang Eka Murni, Gang Eka Mulia, dan Gang Eka Family. Sementara 32 warga Kelurahan Kwala Bekala mengungsi di Masjid Muttaqin. Adapun di Medan Helvetia, pengungsi tercatat berada di Masjid Al Hasanah dan Masjid Ubudiyah, Kelurahan Tanjung Gusta.

BPBD juga memantau kenaikan debit air di sejumlah aliran sungai, di antaranya Sungai Belawan, Sungai Deli, dan Sungai Babura. Air Sungai Belawan sempat naik sekitar dua meter sebelum berangsur turun. Sementara di kawasan Jalan Letjen Suprapto, ketinggian air Sungai Deli meningkat dari sekitar 20 sentimeter menjadi 60 sentimeter pada Kamis dini hari.

Upaya membantu masyarakat, BPBD melakukan pemantauan, mendukung proses evakuasi, serta menyalurkan bantuan makanan. Sebanyak 200 bungkus nasi disalurkan ke Kelurahan Hamdan dan 300 bungkus ke Kelurahan Gedung Johor. Di sejumlah kawasan, ketinggian air mulai berangsur surut, termasuk di Kampung Aur yang dilaporkan mengalami penurunan sekitar satu meter.

Siapkan Lokasi Pengungsian

Belajar dari bencana banjir besar yang melanda Kota Medan pada November 2025, Rico Waas meminta seluruh jajaran tidak menganggap remeh potensi banjir pada musim hujan kali ini.

Ia mengatakan, Pemko Medan telah menginventarisasi lebih dari 200 lokasi pengungsian. Setiap titik telah dilengkapi nama penanggung jawab beserta nomor kontak untuk mempermudah koordinasi, pemantauan kondisi lokasi, hingga pendataan warga yang harus dievakuasi.

"Intinya sudah mulai bagus. Sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sudah bisa ready. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kesiapan kita," kata Rico Waas seusai melantik Erisda Hutasoit sebagai Sekretaris DPRD Kota Medan di Ruang Rapat III Balai Kota Medan, Jumat (30/10/2026).

Menurut Rico, kesiapsiagaan tersebut juga diperkuat melalui penyiagaan personel BPBD bersama perangkat daerah dan perangkat kewilayahan, terutama di kawasan permukiman yang berada di sekitar bantaran sungai. Ia meminta petugas bergerak cepat apabila debit air meningkat, termasuk melakukan evakuasi warga dan memastikan bantuan pangan tersedia bagi masyarakat yang terdampak.

Selain itu, BPBD telah melaksanakan simulasi kebencanaan guna meningkatkan kesiapan personel dalam menghadapi kemungkinan bencana. Pemko Medan juga terus melakukan upaya pengurangan risiko banjir melalui perawatan dan pembersihan saluran drainase. Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) diminta memastikan saluran air tetap berfungsi agar aliran air hujan tidak terhambat.

Libatkan Rumah Sakit

Tidak hanya mengandalkan BPBD, Rico menegaskan penanganan bencana membutuhkan koordinasi lintas instansi. Pemko Medan telah memperkuat komunikasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah lembaga terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai Sunatera (BWSS), BMKG, Basarnas, TNI-Polri, kejaksaan, relawan, serta unsur kedokteran.

Pemko Medan bahkan berencana menggelar pertemuan dengan para kepala rumah sakit untuk memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga medis apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kelompok rentan, seperti balita, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas, mendapatkan perhatian khusus ketika proses evakuasi maupun selama berada di lokasi pengungsian.

Rico mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Terlebih, BMKG telah beberapa kali mengeluarkan peringatan cuaca pada periode 23–30 Oktober 2026.

"Lebih baik kita prepare (persiapan), lebih baik kita waspada tinggi dibanding dianggap merasa biasa-biasa. Jadi memang harus memantau terus," tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir untuk segera melaporkan kondisi darurat dan mengikuti arahan petugas apabila debit air kembali meningkat. (has)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini