![]() |
| Ayam Kinantan keok di Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, menghadapi PSPS Pekanbaru, Minggu (11/10/2026) sore dengan skor 2-1. Istimewa/Hastara.id |
Kartu merah dilayangkan wasit Bangkit Sanjaya kepada Rizdjar Nurviat Subagja menit ke-31, diusirnya pemain bawah tersebut seakan menjadi celah keoknya Ayam Kinantan di Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, menghadapi PSPS Pekanbaru, Minggu (11/10/2026) sore dengan skor 2-1.
Dua lawatan sebelumnya, yakni menantang Sumsel United di Palembang penjaga gawang Rudi N Razak diusir wasit langsung dengan kartu merah, kondisi serupa terjadi saat bertanding di Bekasi melawan Adhyaksa FC giliran pemain bawah Gufron kantongi kartu merah.
Berdasarkan penjelasan pelatih PSMS Medan, Eko Purdjianto, para pemain mampu mengantisipasi pertarungan sebelum petaka kartu merah menjelang 14 menit waktu normal memasuki jeda. Pun demikian, diakui masih mampu menahan kedudukan sama kuat di 45 menit pertama.
Memasuki babak kedua, sambung Eko, kendati sempat tertinggal di menit ke-48 lewat gol Dimas Wicaksono tetapi masih dapat bernafas lega, berselang sebelas menit kemudian Javier Siviero mampu samakan kedudukan lewat sundulan setelah menerima bola lambung hasil sepak pojok Phillerson Oliveira di menit ke-59.
Harapan memetik satu poin dari Pekanbaru pun buyar, tatkala Hamzah Deva mengoyak jala PSMS Medan delapan menit menjelang waktu normal pertandingan berakhir persisnya memasuki menit ke-82.
Eko mengapresiasi kemenangan PSPS, sekaligus menilai PSMS Medan telah berjuang keras bermain dengan 10 pemain penghujung babak pertama.
“Pertama, apresiasi buat PSPS Pekanbaru yang menang dengan skor 2-1. Kami kesulitan di babak pertama karena sekitar menit ke-30 sudah bermain dengan 10 pemain. Kami berusaha mempertahankan hasil seri, tetapi yang terjadi justru kalah 2-1,” kata Eko usai pertandingan.
Pria asal Semarang yang sudah dua musim tukangi PSMS Medan ini, menyoroti gol penentu Askar Bertuah dari bola mati. Situasi itu akan dievaluasi sebelum menghadapi Semen Padang di pertandingan berikut. Terkait kartu merah, diakui membuat rencana permainan PSMS berubah.
“Kami sebenarnya sudah bisa mengantisipasi permainan di babak pertama sebelum kartu merah terjadi. Namun, apa boleh buat, kami mendapatkan situasi yang tidak diinginkan dan harus bermain dengan 10 pemain,” ulas Eko.
Secara bersamaan penyerang PSMS Medan, Javier Siverio, menganggap pertandingan berjalan sulit setelah tim kehilangan satu pemain terlalu dini.
“Kami tidak memainkan pertandingan yang buruk, tetapi memang sangat sulit ketika harus bermain dengan 10 pemain terlalu awal. Kami bermain bagus di babak kedua, mencetak gol penyeimbang, lalu ketika berupaya mencetak gol kedua, kami mendapatkan serangan balik dan kecolongan,” ujar Siverio.
Penyerang asal Negeri Matador ini menilai PSMS tidak kalah dalam kualitas permainan, tetapi mengakui timnya perlu memperbaiki kesalahan berulang.
“Kami sudah memainkan tiga pertandingan tandang dan mendapatkan tiga kartu merah. Situasi ini sangat sulit untuk mencapai hasil kami harapkan. Kami harus memperbaiki kesalahan ini, dan saya rasa ke depannya akan menjadi lebih baik,” pungkas Siverio.
Hasil tersebut membuat PSPS Pekanbaru mengambil alih puncak klasemen sementara Grup A dengan koleksi 11 poin, sedangkan PSMS Medan turun ke posisi kedua dengan 10 poin.
Persoalan tiga kartu merah dari tiga partai tandang, sejatinya menjadi perhatian ekstra oficial tim memberikan warning bagi pemain. Suyud mantan menejer PSMS U-23 tahun 2006 lalu menegaskan, selain mengurusi taktikal semestinya mental pemain juga dipahami agar tidak merugikan tim.
"Tiga red card di tiga away, hal yang sepatutnya dicermati ofisial tim. Idealnya ada warning tertentu kepada pemain, agar tidak merugikan tim. Faktor apa saja, itu harus menjadi pekerjaan rumah," tutup mantan pegawai Kantor DJP Medan lewat sambungan seluler. (jie)
