-->

Hari Ini Sejarah Baru Kepemimpinan Tapanuli Utara Dimulai

Sebarkan:

 

Satika Simamora dan Sarlandy Hutabarat dalam acara borhat-borhat di Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara belum lama ini. Istimewa for Hastara.id

Oleh: PRAN HASIBUAN

Sejak terbentuk pada 5 Oktober 1945, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) belum pernah dipimpin seorang perempuan. Menurut Wikipedia, selama 79 tahun Kabupaten Taput berdiri, telah dipimpin sebanyak 21 bupati. Hari ini, 27 November 2024, lewat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak terbesar dalam sejarah Republik Indonesia, sejarah baru kepemimpinan di Bumi Taput akan ikut terukir. 

Pilkada Taput 2024 diikuti dua pasangan calon alias head to head. Yakni paslon nomor urut 1, Satika Simamora dan Sarlandy Hutabarat versus Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat dan Deni Parlindungan Lumbantoruan sebagai paslon nomor urut 2.  Kehadiran Satika Simamora sebagai calon bupati pada kontestasi Pilkada Taput kali ini, tentu menjadi alasan kuat atas lahirnya sejarah baru kepemimpinan pada kabupaten tertua di Provinsi Sumatera Utara tersebut. 

Kecintaan sebagian besar masyarakat Taput terhadap mantan pemimpin mereka, Nikson Nababan, juga salah satu alasan kuat bahwa Taput siap dipimpin oleh kaum perempuan. Satika Simamora diketahui merupakan istri dari Bupati Taput periode 2014-2024, Nikson Nababan. Warisan dan legacy Nikson Nababan dari segala aspek pembangunan, menjadi harapan besar bagi rakyat Taput untuk dilanjutkan oleh Satika-Sarlandy. Apalagi Sarlandy Hutabarat adalah sosok familiar bagi rakyat Taput, terakhir mendampingi Nikson Nababan sebagai wakil bupati di periode keduanya. 

Segudang pengalaman Sarlandy Hutabarat di pemerintahan dan birokrasi, menjadi modal yang sangat kuat untuk mengukir sejarah kepemimpinan perempuan pertama di Kabupaten Taput. Satika Simamora dalam kebijakan atau keputusannya kelak sebagai top leader di Pemkab Taput, akan terbantu dengan kehadiran Sarlandy Hutabarat sebagai wakilnya. Selain berpengalaman, Sarlandy Hutabarat merupakan sosok yang sangat loyal kepada pimpinan. Satika Simamora tentu akan nyaman untuk berakselerasi dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai bupati. Bahkan mengeksekusi janji-janji kampanyenya kepada masyarakat setelah duduk kelak. 

Keharmonisan dengan Sarlandy Hutabarat selama satu periode kepemimpinan, kerap diakui Nikson Nababan dihadapan ratusan masyarakat dalam setiap mengampanyekan paslon Satika-Sarlandy. Sementara dari sisi Sarlandy Hutabarat, berdasarkan informasi yang dihimpun penulis dari orang-orang terdekatnya, memahami betul bahwa posisi wakil bertugas untuk membantu semua tanggungjawab dan wewenang yang diberikan negara kepada seorang kepala daerah. Sehingga Nikson Nababan saat itu begitu nyaman menjalankan roda pemerintahan di periode terakhirnya. 

Satika Simamora menunjukkan simbol cinta terhadap rakyat Tapanuli Utara dalam kampanye akbar di Lapangan Serbaguna Tarutung pada 21 November 2024. Istimewa for Hastara.id

Chemistry yang begitu baik dan epik ini, diinginkan Nikson berlanjut kepada sang istri, sehingga ia kembali memilih dan mempercayai Sarlandy Hutabarat sebagai wakil Satika Simamora. Kondisi ini seakan tidak menyenangkan buat kubu rival, JTP Hutabarat. Karena seolah mempertegas bahwa kontestasi 2024 bak mengulang kekalahan baginya di Pilkada Taput 2018 lalu. Secara khusus, sosok Sarlandy akan kembali membuat punguan marga Hutabarat di Taput terbelah suaranya untuk JTP. Bahkan informasinya saat ini dukungan punguan Hutabarat semakin besar untuk memenangkan paslon 01, Satika-Sarlandy. Bayang-bayang melawan Nikson-Sarlandy untuk kedua kalinya ini, tentu membuat JTP Hutabarat 'susah tidur malam'. Meski saat ini ia didukung oleh koalisi parpol gemuk nan besar. Sedangkan Satika-Sarlandy hanya didukung dua parpol saja: PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

'Kontestasi mini' antara Satika vs JTP sebenarnya sudah terbukti saat Pemilihan Umum, 14 Februari lalu. Mereka saat itu bertarung untuk memperebutkan kursi anggota DPRD Sumut dari Daerah Pemilihan IX. Hasilnya, Satika Simamora memperoleh suara sekitar 55 ribu, sedangkan JTP hanya mendulang sekira 37 ribu suara. Bila diinventarisir, suara JTP justru banyak didapatnya dari luar Taput. Sementara Satika Simamora mendulang banyak suara dari kampung halamannya sendiri. Mengingat elektoralnya berada di atas pesaingnya itu, wajar bila akhirnya PDIP sebagai 'rumah politik' Satika Simamora menjatuhkan pilihan untuk mengusungnya di Pilkada Taput. Apalagi sebelumnya berdasarkan survey internal, posisi Satika Simamora berada di urutan teratas ketimbang tokoh-tokoh lain dari partai banteng moncong putih, baik tingkat pusat, provinsi dan Kabupaten Taput sendiri. 

Sejauh ini, amatan penulis di lapangan, juga berdasarkan data dan fakta yang dikumpulkan dari berbagai sumber, bahwa pilihan PDIP dan PKB mengusung Satika Simamora sudahlah tepat. Sebab semua parpol ingin terus berkuasa di setiap daerah termasuk PDIP di Kabupaten Taput. Terlepas cap bahwa Satika Simamora adalah istri mantan bupati Nikson Nababan, sekaligus ketua PDIP Taput. Tetapi saat itu tak ada pilihan lain yang dinilai PDIP, bahwa sosok Satika Simamora yang mampu untuk melanjutkan kepemimpinan di Kabupaten Taput. Bahwa akan lebih mudah melanjutkan pembangunan Taput lima tahun mendatang di bawah kepemimpinan Satika Simamora, ketimbang calon lain yang kurang jam terbang dan cenderung tidak memahami dinamika yang sebenarnya terjadi di bumi Dalihan Natolu.  

Bahwa kemudian selama 10 tahun belakangan ini Satika Simamora mendampingi sang suami sebagai bupati, melekat jabatan ketua TP PKK, ketua Dekranasda dan Bunda PAUD, senantiasa menyentuh dan berinteraksi dengan hampir seluruh lapisan masyarakat di Taput. Mulai dari kaum lanjut usia atau lansia, kawula muda hingga kelompok-kelompok pengrajin ulos Batak. Dalam setiap persoalan-persoalan sosial masyarakat, ibu dua orang putra tersebut juga hadir bagi rakyatnya. Bahkan ada hal-hal yang belum mampu ditunaikan sang suami, Satika mengambil peran dalam mengingatkan dan membantu carikan solusinya. Bermodal pengalaman memenej banyak problem tersebut, Satika Simamora kian percaya diri tampil sebagai calon pemimpin. Dalam setiap kampanye bertemu masyarakat, dia banyak memaparkan program kerja yang akan dilakukan bersama Sarlandy Hutabarat lima tahun mendatang. 

Lewat visi berdaya saing, berkarakter dan berbudaya, misi serta program kerja Satika-Sarlandy antara lain untuk menjadikan Taput hebat di bidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan perekonomian masyarakat. Satika juga kerap menegaskan bahwa kehadiran mereka untuk melayani masyarakat dan membawa kemajuan bagi Taput. Tak sedikit pun niat mereka membawa Taput ke jurang kehancuran, mengingat warisan pembangunan cukup baik di masa sang suami memimpin selama 10 tahun. Aspek infrastruktur fisik, misalnya, disebut Satika bahwa tinggal 20 persen lagi yang mesti dibenahi. Artinya pekerjaan maha berat ke depan, tentu di luar aspek pembangunan fisik melainkan pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka menaikkan taraf ekonomi yang lebih baik. 

Pelibatan dan partisipasi masyarakat selalu menjadi prioritas buat Satika Simamora dalam menyusun program kerjanya ke depan. Dalam mengeksekusi janji-janji politik dan kampanyenya kelak, ia ingin kaum muda terlibat aktif mengambil peran strategis tersebut. Baginya dalam berkarya berkelanjutan mewujudkan kemajuan Taput harus dikerjakan secara bersama-sama. Butuh partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Visi misi inilah yang akhirnya sampai ke relung hati rakyat Taput hingga ke desa-desa terisolir. Setidaknya selama dua bulan masa kampanye, keduanya aktif keluar masuk kampung untuk menemui masyarakat dalam menyampaikan gagasan dimaksud. Puncaknya saat kampanye akbar di Lapangan Serbaguna Tarutung, 21 November 2024, puluhan ribu masyarakat Taput menyatakan siap untuk dipimpin seorang perempuan. Bagi masyarakat Taput, sebutan 'Bunda' untuk Satika Simamora bermakna sangat dalam bahwa tidak akan mungkin seorang ibu akan meninggalkan anak-anak dan keluarganya. Bahkan dalam kondisi sepahit apapun. Tidak akan mungkin pula seorang istri mengkhianati perjuangan dan merusak tatanan yang sudah dibangun dengan baik oleh suaminya. 

Terlebih masyarakat Taput sudah menyadari bahwa kepemimpinan perempuan di republik ini pernah terjadi, termasuk kehadiran para pemimpin daerah di berbagai  provinsi termasuk Sumut. Sebut aja seperti Wali Kota Pematang Siantar, Susanti Dewayani dan Bupati Karo, Cory S Sebayang. Mereka dipilih lewat tahapan Pemilukada. Lewat proses penjaringan dan penyaringan partai politik. Bukan seenaknya ditunjuk. Seperti sistem kerajaan. 

Berbekal fakta-fakta tersebut pula, rakyat Taput kian tercerdaskan bahwa kepemimpinan antara laki-laki dengan perempuan pada prinsipnya hampir sama. Sebab memimpin merupakan seni yang bisa dilakoni oleh laki-laki maupun perempuan. Demikian soal ketegasan. Belum tentu jika pemimpin laki-laki akan mampu lebih tegas ketimbang pemimpin perempuan. Bisa jadi sebaliknya. Apalagi dikait-kaitkan dengan isu dinasti, toh Pemilukada yang memilih langsung adalah rakyat. Rakyat-lah yang menentukan siapa pemimpin yang pantas buat mereka. Siapkah Kabupaten Taput menyongsong perubahan pemimpin dari bapak ke ibu? Sejarah kepemimpinan baru itu akan diukir hari ini. (*)

***Penulis merupakan wartawan politik di Sumatera Utara. 


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini