![]() |
| Suasana bencana alam yang menerjang Kabupaten Tapsel, mulai dari banjir bandang hingga longsor mengakibatkan korban jiwa dan konektivitas terputus. Istimewa/Hastara.id |
TAPSEL, HASTARA.ID — Hujan deras yang mengguyur wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel) selama lima hari berturut-turut memicu serangkaian bencana alam, mulai dari jalan amblas, longsor di permukiman hingga banjir bandang yang menimbulkan korban jiwa, Selasa (25/11/2025).
Jalan nasional di kawasan Danau Siais, Rianiate, Angkola Sangkunur amblas dan putus total sejak Senin (24/11/2025) sekitar pukul 16.00 WIB. Kondisi retakan dan amblasan terjadi sepanjang ±20 meter dan menyebabkan akses utama Tapsel–Mandailing Natal lumpuh.
“Nggak begitu jauh lokasi jalan amblasnya dari bibir Danau Siais. Untung gak ada korban jiwa,” ujar Ramli Siregar, warga setempat.
Petugas PPK Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional bersama Dinas PU Pemkab Tapsel telah berada di lokasi untuk melakukan identifikasi dan penanganan darurat.
“PPK Balai Besar dan Dinas PU sudah berkoordinasi untuk tindakan penanganan sementara,” kata Anggota DPRD Tapsel, Irmansyah Siregar.
Sementara di Angkola Barat, longsor kembali terjadi di kawasan rawan bencana Tobotan yang dalam empat tahun terakhir sudah tiga kali terdampak.
Longsor terjadi Senin malam sekitar pukul 22.45 WIB dan menyeret sebuah mobil Toyota Innova ke jurang sedalam 10 meter. Dalam video warga, lampu mobil tampak masih menyala saat terperosok di dasar jurang.
“Memang sering longsor di sini. Bagian kanan jalan itu jurang. Untung mobilnya tidak terbalik dan tidak ada korban jiwa,” tutur Ridwan, warga sekitar.
Nyaris Amblas
Kondisi di Aek Pining, Batangtoru, tiga rumah warga rusak akibat tanah longsor yang terjadi Selasa pagi. Dua rumah di Gang Hasanah dan satu rumah di Gang Rahmat mengalami kerusakan pada bagian belakang hingga nyaris amblas.
“Pas mau berangkat kerja saya kaget lihat belakang rumah sudah kena longsor,” ujar Ahmad Hasibuan, pemilik rumah.
Tanpa suara gemuruh, longsor menggerus pondasi pagar yang baru ia bangun empat bulan lalu. Warga sekitar memasang terpal darurat untuk menahan air hujan agar longsor tidak meluas.
Hingga sore, hujan deras masih mengguyur wilayah Batangtoru, membuat warga khawatir longsor susulan.
Dua Korban Meninggal, Akses Lumpuh Total
Bencana terbesar terjadi di Batangtoru. Banjir bandang yang dipicu luapan Sungai Garoga menerjang tiga desa: Huta Godang, Garoga, dan Aek Ngadol. Di Aek Ngadol, dua warga ditemukan meninggal dunia dan dievakuasi oleh warga menggunakan tandu dari kayu.
“Cepat, tunggu keluarganya,” ujar petugas saat evakuasi di jembatan Aek Ngadol.
Salah satu korban ditemukan dalam kondisi tubuh sudah pucat karena diduga kedinginan saat hanyut.
Ratusan warga mengungsi, terutama dari Aek Ngadol yang dialihkan ke Desa Batu Hula, di mana tenda dan posko darurat telah dibangun.
Terputus
Sejumlah jalur utama di wilayah tersebut lumpuh, antara lain:
1. Jalur Batangtoru – Tapteng. Jalan lintas tertutup lumpur tebal dan tidak bisa dilalui. “Untuk ke Medan via Sibolga, jangan dulu. Jalan Huta Godang belum bisa diakses,” ujar Camat Batangtoru, Maratinggi Siregar.
2. Jalur Sipirok – Tarutung. Camat Sipirok Syahruddin Perwira menyebut longsor terjadi di dua titik: Desa Marsada dan Aek Latong. “Bukit longsor menutup jalan. Sepertinya baru bisa dilalui besok atau lusa,” katanya.
3. Jalur Alternatif. Dari tiga jalur nasional penghubung Padangsidimpuan–Medan, kini hanya satu jalur yang masih dapat dilalui: Via Gunung Tua – Paluta – Kotapinang – Rantau Parapat.
Evakuasi Masih Berlangsung
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi, pencarian korban, dan pembersihan material longsor dan banjir masih berlangsung di sejumlah titik.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI-Polri, Basarnas, serta relawan terus berupaya membuka akses dan mengevakuasi warga.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat hujan deras diprediksi masih akan mengguyur wilayah Tapsel selama beberapa hari ke depan. (bal/bbs)
