-->

Kerusakan DAS Percepat Krisis Banjir Medan

Sebarkan:

 

Personel gabungan Pemko Medan mengevakuasi warga dari rumahnya menuju pengungsian saat banjir besar melanda pada Kamis, 27 November 2025. Istimewa/Hastara.id 

MEDAN, HASTARA.ID — Banjir yang menerjang pada 27–30 November 2025 menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan banjir Kota Medan. Dalam empat hari, air setinggi dada orang dewasa merendam kawasan-kawasan padat penduduk, memutus listrik, merusak rumah, dan membuat lebih dari 85 ribu warga mengungsi. 

Meski curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama, fakta di lapangan menunjukkan persoalan inti justru terletak pada daya tahan sungai, buruknya pengendalian daerah aliran sungai (DAS), serta minimnya respons awal aparat di lapangan.

Plt Kepala Dinas SDABMBK Medan, Gibson Panjaitan, mengakui banjir kali ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah ibu kota Provinsi Sumatera Utara. 

“Tiga sungai—Belawan, Bedera, dan Deli—meluap bersamaan. DAS tak mampu menahan volume air yang datang dari hulu,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025). 

Data Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II menunjukkan curah hujan mencapai 150 mm dalam tiga hari, dua kali lipat dari kondisi normal. Air dari pegunungan bertemu di hilir, membuat luapan tak terbendung. Luapan tersebut memapar ribuan rumah yang berdiri di sepanjang bantaran sungai, menghanyutkan perabot, membanjiri jalan-jalan utama, dan membuat akses ke beberapa kelurahan terputus.

DAS Rusak Hingga 7 Titik

Dinas SDABMBK dan BWSS II menemukan 6–7 titik kerusakan DAS, terutama di jalur paling kritis: Sungai Deli dan Sungai Percut. Beberapa lokasi di Bedera dan Terjun Marelan bahkan sudah mendekati titik jebol total.

“DAS Bedera ada yang tergerus dan hampir jebol. Kami turun langsung cek. Begitu air surut, harus segera diperbaiki,” tegas Gibson.

Kerusakan DAS semakin mempercepat banjir, terutama di kawasan hilir yang dihuni puluhan ribu warga dengan infrastruktur yang minim.

Dalam skala banjir besar ini, floodway dari Sei Batang Hari–Belawan hingga Setia Budi terbukti menyelamatkan inti Kota Medan. Air di pusat kota surut dalam dua hari. Namun situasi berbeda terjadi di kawasan hilir: Marelan, Helvetia, Belawan. Di sana, warga harus bertahan hingga empat hari dalam genangan. 

Gedung sekolah, kantor kelurahan, puskesmas, bahkan rumah ibadah disulap menjadi tempat pengungsian darurat. Guna mempercepat pembersihan, Dinas SDABMBK menurunkan alat berat, menggandakan personel, dan mengerahkan bantuan lintas kecamatan. (prn)


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini