-->

Lomba Pemazmur 2025 Semarak, Pastor Tagih Komitmen Pemko Medan Soal Guru Agama Katolik

Sebarkan:

 

Sejumlah tokoh Katolik dari berbagai latar belakang dan Kadisdikbud Kota Medan, Benny Sinomba Siregar diabadikan di sela-sela puncak Lomba Pemazmur Kota Medan 2025 di Komplek Yayasan Perguruan Budi Murni, Jalan Timor Medan, Sabtu (6/12). Istimewa/Hastara.id 
MEDAN, HASTARA.ID — Ribuan umat Katolik memenuhi Komplek Yayasan Perguruan Budi Murni, Jalan Timor Medan, Sabtu (6/12), pada puncak Lomba Pemazmur Kota Medan 2025. Acara berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan kehadiran pastor, pengurus paroki, Orang Muda Katolik (OMK), perwakilan TNI–Polri, OPD, serta anggota DPRD Medan beragama Katolik.

Ketua Panitia Edison Sibagariang membuka acara dengan menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, serta jajaran yang mendukung kegiatan sejak pembukaan hingga penutupan. Apresiasi juga ditujukan kepada Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Medan, Benny Sinomba Siregar, Anggota DPRD Medan Antonius Devolis Tumanggor dan Modesta Marpaung, serta Pastor Yohanes Sampang Tumanggor dari Kevikepan Keuskupan Agung Medan.

“Dengan dukungan 13 paroki dan berbagai pihak, acara ini bisa berlangsung dengan baik,” ujar Edison di hadapan ribuan umat.

Lomba Pemazmur 2025 mengusung tema “Mazmur: Suara Umat, Nada Pengharapan” dan diikuti 105 peserta, terdiri dari 69 peserta OMK dan 36 peserta kategori dewasa. Edison menyebutkan, lomba bertujuan menggali talenta serta kecintaan umat terhadap musik liturgi, sekaligus mempererat kerukunan umat beragama sesuai semangat "Medan untuk Semua". 

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dijadikan agenda tahunan dan dikemas lebih besar pada tahun berikutnya.

Sampaikan Masalah Pendidikan Agama Katolik

Salah satu momen paling menyita perhatian terjadi ketika Pastor Yohannes Sampang Tumanggor menyampaikan aspirasi penting mengenai pendidikan agama Katolik di sekolah negeri.

Menurutnya, ribuan siswa Katolik di berbagai tingkatan sekolah negeri di Medan tidak mendapatkan pelajaran agama Katolik karena ketiadaan guru agama Katolik.

“Ada sekolah yang memiliki 10, 15 bahkan 40 siswa Katolik, namun tetap tidak memperoleh pembelajaran agama sesuai keyakinan mereka,” ujarnya.

Pastor menegaskan bahwa Undang-undang Pendidikan menjamin setiap siswa berhak mendapatkan pelajaran agama sesuai agamanya dan diajarkan oleh guru seiman. 

“Mohon ini menjadi perhatian serius,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa lomba pemazmur menjadi sarana membina generasi muda agar semakin terampil dalam liturgi dan dapat menjadi pemazmur di gereja masing-masing.

Dalam sambutannya, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Medan Benny Sinomba Siregar mengapresiasi terselenggaranya perlombaan tersebut. Ia menilai lomba bukan hanya ajang vokal, tetapi juga ruang memperdalam makna doa dan pujian dalam Mazmur.

“Setiap ayat yang dilantunkan mengajarkan syukur, pengharapan, dan keteguhan iman yang relevan bagi kehidupan kita hari ini,” ujarnya.

Benny berharap kegiatan ini dapat melahirkan generasi yang mampu menjadikan pujian sebagai inspirasi, memperkuat persatuan, dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

Anggota DPRD Medan, Antonius D Tumanggor ikut berpartisipasi dalam puncak Lomba Pemazmur Kota Medan 2025 di Komplek Yayasan Perguruan Budi Murni, Jalan Timor Medan, Sabtu (6/12). Istimewa/Hastara.id 

**Deretan Juara

*Kategori OMK:

•Juara I: Novina Lastiar Pakpahan (St Petrus Medan Timur) – 830

•Juara II: Putri Winda Laura Sinurat (St Fransiskus Asisi Padang Bulan) – 828

•Juara III: Geraldo Edithstein Marguditi (St Paulus Pasar Merah)

•Juara IV: Jannice Firdawati Naibaho (St Yohannes Penginjil Mandala) – 748

•Juara V: Yohana Teresia Naibaho (St Padre Pio Helvetia) – 730

*Kategori Dewasa:

•Juara I: Montesqien Silalahi (St Fransiskus Asisi Padang Bulan) – 765

•Juara II: Christien Julita Panjaitan (St Maria Ratu Rosari) – 752

•Juara III: Charles Agustinus Manullang (St Fransiskus Asisi Padang Bulan) – 745

•Juara IV: Fatius Gulo (St Paulus Pulo Brayan Bengkel) – 722

•Juara V: Hadianus Odinaiten (Medan Hayam Wuruk) – 710

Acara ditutup dengan tari-tarian, lagu mars “Medan untuk Semua, Semua untuk Medan”, serta penyerahan bantuan untuk korban banjir dari Kevikepan Medan Katedral dan Medan Hayam Wuruk kepada Paroki Padre Pio — menandai bahwa perayaan iman ini juga menjadi momentum solidaritas antarumat. (rel)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini