![]() |
| Dr Harli Siregar membuka secara langsung kejuaraan karate Kajatisu Cup II di Gedung Olahraga Jalan William Iskandar, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (13/2/2026). Istimewa/Hastara.id |
Turnamen yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 13–15 Februari 2026, itu disebut panitia mengalami lonjakan peserta. Ketua panitia, Edmon H. Purba, menilai antusiasme peserta menunjukkan semangat pembinaan olahraga beladiri di daerah masih tinggi.
Namun di tengah kemeriahan acara, perhatian publik justru tertuju pada kursi pejabat pemerintah daerah yang tampak kosong. Tidak terlihat kehadiran Gubernur Sumut Bobby Nasution, wakil gubernur, maupun Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut di lokasi kegiatan.
Absennya unsur Pemprov Sumut memicu berbagai spekulasi di kalangan jurnalis yang meliput kegiatan tersebut. Sejumlah wartawan mengaitkannya dengan sikap tegas Kajati Sumut dalam penegakan hukum, khususnya perkara tindak pidana korupsi.
“Bisa jadi karena ketegasan Kajati dalam pemberantasan korupsi, sehingga muncul kesan kurangnya dukungan terhadap kegiatan olahraga yang justru positif bagi pembinaan atlet,” ujar seorang wartawan di lokasi.
Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari pihak Pemprov Sumut terkait alasan ketidakhadiran tersebut.
Pesan Sportivitas
Dalam sambutannya, Harli Siregar menegaskan bahwa kejuaraan karate bukan sekadar ajang berburu medali, melainkan sarana pembentukan karakter atlet.
“Pertandingan di gelanggang bukan permusuhan, tetapi kompetisi sehat antaratlet. Junjung tinggi sportivitas, kejujuran, dan semangat juang,” ujar Harli dihadapan peserta.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya turnamen tersebut serta berharap kejuaraan ini melahirkan atlet muda yang tangguh sekaligus berintegritas.
Ketua Pengprov Federasi Olahraga Karate-do Indonesia Sumut, H Rahmat Shah, menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kejuaraan ini. Menurutnya, dukungan moral dari Kejaksaan Tinggi Sumut menjadi faktor penting dalam pembinaan olahraga karate di daerah.
“Dari kegiatan ini kita harapkan lahir atlet-atlet yang jujur dan tangguh,” katanya.
Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumut, Rizaldi, menjelaskan bahwa kejuaraan memperebutkan piala bergilir Kajati Sumut serta uang pembinaan bagi para juara.
Acara pembukaan dihadiri sejumlah pejabat internal Kejati Sumut, perwakilan Polda Sumut, Ketua KONI Kota Medan, pengurus FORKI Kota Medan, serta perwakilan organisasi kepemudaan. Sejumlah tokoh pers juga turut hadir, di antaranya Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sumut dan Forum Wartawan Kejaksaan Sumut. Absennya unsur pemerintah provinsi tetap menjadi perbincangan utama yang membayangi pembukaan turnamen.
Fenomena minimnya kehadiran pejabat daerah dalam kegiatan olahraga yang berskala regional menimbulkan pertanyaan tentang sinergi antar-lembaga dalam mendukung pembinaan atlet. Di tengah upaya mendorong prestasi olahraga sekaligus memperkuat integritas institusi, publik menilai seharusnya dukungan pemerintah hadir secara nyata, bukan sekadar simbolik.
Kajatisu Cup II pada akhirnya bukan hanya menjadi arena adu teknik para karateka, tetapi juga cermin relasi kekuasaan dan dinamika politik birokrasi di Sumatera Utara. (red)
