![]() |
| Anggota Komisi III DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj. Sri Rezeki. Istimewa/Hastara.id |
Kenaikan harga MinyaKita terjadi di tengah merangkaknya sejumlah harga kebutuhan pokok lain di pasar tradisional Kota Medan sepanjang Mei 2026. Kondisi ini dinilai semakin menekan daya beli masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Kota Medan, Sri Rezeki, mendesak Pemerintah Kota Medan melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera turun ke pasar guna mengawasi distribusi dan stabilitas harga.
“Pemko Medan harus segera melakukan peninjauan ke pasar-pasar. Kalau selisih harga sudah terlalu jauh, ini sangat berisiko dimanfaatkan spekulan,” ujarnya menjawab wartawan, Selasa (12/5/2026).
Politisi PKS itu mengingatkan pemerintah agar tidak lambat merespons gejolak harga kebutuhan pokok. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menunggu persoalan menjadi viral di media sosial sebelum bertindak.
“Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Cari tahu penyebab kenaikan dan segera siapkan solusi. Kondisi ekonomi masyarakat saat ini sudah terjepit,” tegasnya.
Sri Rezeki mengatakan keluhan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, terus bermunculan akibat sulitnya mendapatkan minyak goreng subsidi dengan harga terjangkau.
“Emak-emak banyak mengeluh. Minyak goreng ini kebutuhan pokok hampir di setiap rumah tangga. Persoalan ini sangat mendesak,” kata politikus PKS ini.
Ia juga mengingatkan dampak domino kenaikan harga minyak goreng terhadap harga makanan lain. Menurutnya, kenaikan biaya produksi akan memicu naiknya harga jual berbagai jenis makanan.
“Semua saling berkaitan. Kalau harga minyak naik, bahan makanan yang menggunakan minyak otomatis ikut naik,” ujarnya.
Karenanya Komisi III mendesak Pemko Medan segera mengambil langkah konkret, termasuk menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk menekan lonjakan harga serta menjaga daya beli masyarakat.
“Pemko harus cepat bergerak. Jangan hanya bilang sudah turun ke lapangan, tapi masyarakat tidak merasakan hasilnya,” pungkasnya.
Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Sukaramai, Petisah, dan Aksara, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan lain. Cabai rawit sempat menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Harga bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Selanjutnya harga daging ayam ras masih bertahan tinggi di kisaran Rp35.500 hingga Rp40.000 per kilogram. Komoditas beras dan gula juga menunjukkan tren kenaikan yang memicu kekhawatiran warga.
Tak hanya masyarakat, pelaku UMKM di Medan turut terdampak. Mereka mengeluhkan naiknya harga bahan pendukung usaha, seperti kemasan plastik, yang membuat biaya operasional semakin membengkak. (has)
