Pantauan Hastara.id saat mengunjungi Tahuta Langsa, baru-baru ini, menunjukkan hamparan pepohonan Damar Laut yang tumbuh berkelompok, menjulang kokoh dan menciptakan suasana teduh di tengah udara panas Kota Langsa. Keberadaan vegetasi hutan alam ini menjadi daya tarik tersendiri yang jarang ditemukan pada ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan Indonesia.
Salah seorang pengunjung, Nazir Hasibuan, mengaku sengaja datang untuk melihat langsung keberadaan Damar Laut yang menjadi ciri khas Tahuta Langsa.
Menurut mantan pegawai Dinas Kehutanan yang telah pensiun sekitar 10 tahun lalu itu, keberadaan tanaman hutan alam di kawasan perkotaan merupakan sesuatu yang semakin langka. Ia menilai Tahuta Langsa memiliki nilai ekologis tinggi karena tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga mempertahankan karakter hutan alami.
"Yang membuat saya tertarik datang ke sini adalah karena masih adanya pohon Damar Laut yang tumbuh alami. Ini tidak mudah ditemukan di tempat lain. Keberadaannya menjadi nilai lebih bagi Tahuta Langsa," ujarnya.
Nazir menilai kawasan tersebut masih dapat terus dikembangkan melalui penataan vegetasi yang lebih baik, terutama di sekitar area wisata air. Ia menyarankan penanaman bambu di sekitar danau buatan untuk memperkuat struktur tanah sekaligus mencegah abrasi dan longsor.
Lebih jauh, Nazir mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi banyak taman hutan kota di Indonesia yang dinilai kurang mendapatkan perhatian dan perawatan optimal. Padahal, menurutnya, keberadaan hutan kota memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
"Di banyak daerah, ruang terbuka hijau memang ada, tetapi mayoritas diisi tanaman budidaya. Sementara vegetasi hutan alami justru semakin berkurang. Tahuta Langsa berbeda karena masih memiliki karakter hutan yang kuat," kata mantan Lurah Simpang Rumbio Pemko Solok, Provinsi Sumatera Barat ini.
Ia menilai keberadaan Tahuta Langsa menjadi contoh keberhasilan menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis dan pariwisata. Selain memiliki kawasan hijau yang luas, lokasi tersebut juga dilengkapi taman satwa mini dan wisata air yang menambah daya tarik bagi masyarakat.
"Ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan hutan. Di tengah dominasi perkebunan sawit di sekitar kawasan, Tahuta Langsa mampu menciptakan iklim mikro yang berbeda dan lebih nyaman," ujarnya.
Nazir juga mengingatkan bahwa fungsi hutan tidak hanya sebagai penyedia oksigen, tetapi berperan penting dalam tata kelola air. Menurutnya, hutan berfungsi menyerap air saat musim hujan dan melepaskannya kembali pada musim kemarau, sehingga membantu mencegah banjir maupun kekeringan.
Ia menyinggung banjir besar yang sempat melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 sebagai pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara kawasan hutan, permukiman, pertanian, dan kawasan bisnis.
"Hutan adalah sumber kehidupan. Tanpa hutan, manusia akan menghadapi banyak persoalan lingkungan. Karena itu, pelestarian kawasan hijau harus menjadi perhatian bersama," katanya.
Secara khusus, Nazir mengajak pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberadaan pohon Damar Laut yang menjadi identitas Tahuta Langsa. Ia menilai upaya konservasi dan budidaya tanaman tersebut perlu segera dilakukan agar tidak terancam punah.
"Kalau tidak mulai dilestarikan dari sekarang, bukan tidak mungkin Damar Laut hanya akan menjadi cerita bagi generasi mendatang. Padahal keberadaan tanaman ini merupakan kekayaan yang sangat berharga," tegasnya.
Paru-Paru Kota Sekaligus Destinasi Wisata
Tahuta Langsa merupakan ruang terbuka hijau seluas sekitar 48 hingga 50 hektare yang berada di Desa Paya Bujok Seulemak, Kota Langsa. Kawasan ini mengusung konsep perpaduan wisata alam, buatan, dan budaya yang dikenal dengan istilah LAMBADA.
Selain berfungsi sebagai paru-paru kota, Tahuta Langsa juga menjadi destinasi rekreasi keluarga dengan beragam fasilitas, mulai dari taman satwa mini yang dihuni rusa, kuda, kura-kura, hingga ular, wahana wisata air seperti bebek dayung dan speedboat, serta replika rumah adat Aceh yang menjadi sarana edukasi budaya.
Lokasinya hanya berjarak sekitar 10 hingga 15 menit dari pusat Kota Langsa, dengan biaya masuk yang relatif terjangkau sehingga menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat dan wisatawan yang ingin menikmati suasana hijau di tengah kota. (has)

