Fakta tersebut terungkap ketika Antonius mengawali kegiatan dengan memberikan tantangan kepada sekitar seratus peserta yang hadir. Ia menawarkan hadiah bagi warga yang berani melafalkan Pancasila di hadapan peserta lainnya. Namun, suasana sempat hening karena tidak ada satu pun peserta yang langsung mengangkat tangan. Setelah beberapa saat, Antonius kemudian menunjuk seorang pemuda untuk berdiri dan melafalkan.
Pemuda itu tampak gugup saat diminta melafalkan Pancasila. Ketika mulai mengucapkan sila pertama, ia justru menyebut sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia. Kesalahan tersebut sontak mengundang perhatian peserta yang hadir.
Meski demikian, Antonius tetap memberikan apresiasi kepada pemuda tersebut karena berani tampil di depan umum. Ia juga mengingatkan agar generasi muda terus mempelajari dan memahami nilai-nilai dasar negara.
“Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pemahaman terhadap Pancasila harus terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda. Jangan sampai nilai-nilai dasar bangsa justru semakin jauh dari kehidupan sehari-hari,” ujar Politikus Partai NasDem.
Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan semata, melainkan harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tindakan nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, Indonesia berdiri di atas keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Karena itu, semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong yang terkandung dalam Pancasila harus terus dirawat oleh seluruh elemen bangsa.
“Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi ideologi bangsa yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai-nilai luhur Pancasila harus diwariskan kepada generasi muda agar memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan tidak mudah terpengaruh paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Antonius juga mengajak masyarakat mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai kegiatan sosial, termasuk gotong royong menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan.
Menurutnya, budaya gotong royong yang telah diwariskan para pendiri bangsa terbukti menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Gotong royong bukan hanya menyelesaikan pekerjaan bersama, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan antarwarga,” katanya.
Ia berharap kegiatan Wasbang yang rutin digelar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan, memperkuat rasa nasionalisme, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Peristiwa sederhana seorang pemuda yang keliru mengurutkan sila Pancasila itu, menurut Antonius, menjadi alarm bahwa penguatan ideologi bangsa masih menjadi pekerjaan rumah bersama, khususnya dalam membangun karakter generasi muda di era modern. (has)
