-->

Mahalnya Tiket Masuk dan Sewa Stan, Biang Kerok Anjloknya Omzet UMKM PRSU 2026

Sebarkan:

 

Ketua Forum Daerah (Forda) UKM Sumatera Utara, Sri Wahyuni Nukman. Istimewa/Hastara.id

MEDAN, HASTARA.ID — Harapan menjadikan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50/2026 sebagai pesta rakyat sekaligus penggerak ekonomi daerah terus menuai sorotan. Sepekan lebih pelaksanaannya, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengaku mengalami penurunan omzet drastis hingga lebih dari 50 persen dibanding penyelenggaraan sebelumnya.

Forum Daerah (Forda) UKM Sumatera Utara menilai penyelenggaraan PRSU tahun ini belum berpihak kepada pelaku usaha. Alih-alih meningkatkan penjualan, tingginya harga tiket masuk (HTM) dan biaya sewa stan disebut menjadi penyebab utama lesunya transaksi.

Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, mengatakan harga tiket masuk yang berkisar antara Rp35.000 hingga Rp75.000, terutama pada akhir pekan, dinilai terlalu tinggi sehingga mengurangi minat masyarakat untuk datang ke arena PRSU.

"Terjadi penurunan yang sangat nyata. Pendapatan UMKM di PRSU tahun ini jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utamanya adalah harga tiket yang terlalu mahal sehingga masyarakat enggan datang. Ditambah lagi, daya beli masyarakat saat ini juga sedang menurun," kata Sri Wahyuni kepada wartawan di Medan, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, persoalan tidak berhenti pada harga tiket. Biaya sewa stan juga dinilai tidak sebanding dengan potensi pasar yang tersedia. Untuk stan berukuran 2x2 meter selama penyelenggaraan sekitar satu bulan, peserta harus membayar hingga Rp24 juta.

Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan biaya sewa stan pada ajang INACRAFT di Jakarta yang hanya sekitar Rp18 juta, meski pameran tersebut merupakan salah satu pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara.

Besarnya biaya operasional membuat banyak pelaku usaha terpaksa menaikkan harga produk demi menutup pengeluaran. Namun strategi itu tidak mampu mendongkrak penjualan karena daya beli masyarakat dinilai masih lemah.

Kondisi tersebut dirasakan hampir seluruh sektor UMKM. Pengrajin ulos dan pelaku usaha fesyen mengaku penjualan hanya terjadi pada hari pembukaan yang dihadiri banyak pejabat. Setelah itu, pengunjung lebih banyak sekadar melihat-lihat tanpa melakukan transaksi, terutama untuk produk bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Nasib serupa dialami pelaku usaha kuliner. Mereka berharap ramainya pengunjung mampu meningkatkan penjualan, namun kenyataannya jumlah pembeli jauh di bawah ekspektasi sehingga perputaran modal tersendat, sementara biaya sewa dan operasional tetap harus dibayar.

Berdasarkan data yang dihimpun Forda UKM Sumut dari para peserta, rata-rata omzet UMKM pada PRSU 2026 turun lebih dari 50 persen dibandingkan PRSU 2023. Sri Wahyuni meminta penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep penyelenggaraan PRSU, mulai dari kebijakan harga tiket hingga biaya sewa stan.

"PRSU seharusnya menjadi ruang promosi dan pemasaran yang memperkuat ekonomi UMKM, bukan justru membuat pelaku usaha merugi. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar ke depan PRSU benar-benar menjadi pesta rakyat yang berdampak bagi perekonomian masyarakat," tegasnya. (has)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini