Oleh: AMOS DEREBI
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tarutung menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas eskalasi konflik kemanusiaan yang kembali terjadi di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Intan Jaya dan beberapa wilayah lainnya. Berbagai laporan mengenai jatuhnya korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil, termasuk tokoh agama, perempuan hamil, serta warga sipil lainnya, merupakan duka yang menyayat hati bangsa Indonesia.
Sebagai organisasi kader yang berlandaskan iman Kristen, semangat kebangsaan, dan tanggung jawab intelektual, GMKI memandang bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang tidak dapat digantikan oleh kepentingan politik, keamanan, ataupun pembangunan. Ketika satu nyawa melayang akibat konflik, sesungguhnya seluruh bangsa sedang kehilangan sebagian dari kemanusiaannya.
Bapak Presiden Republik Indonesia, konstitusi telah memberikan amanat yang sangat jelas bahwa negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Amanat tersebut bukan sekadar kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, melainkan janji luhur negara kepada setiap warga negaranya, tanpa terkecuali, termasuk masyarakat Papua.
Hari ini rakyat Indonesia menantikan kehadiran negara yang tidak hanya kuat dalam menjaga kedaulatan, tetapi juga adil dalam melindungi kehidupan setiap warga negara. Keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari bertambahnya jalan, jembatan, bandara, atau berbagai proyek strategis, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan rasa aman, keadilan, dan harapan bagi rakyatnya.
Konflik yang terus berlangsung di Papua telah membawa dampak yang sangat luas terhadap kehidupan masyarakat. Pendidikan terganggu, pelayanan kesehatan terhambat, aktivitas ekonomi melemah, masyarakat mengungsi, dan rasa takut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Situasi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlangsung tanpa langkah penyelesaian yang komprehensif.
GMKI Cabang Tarutung berpandangan bahwa setiap dugaan pelanggaran hak asasi manusia, siapa pun pihak yang diduga terlibat, harus diproses melalui mekanisme hukum yang independen, profesional, transparan, dan akuntabel. Negara hukum harus mampu menghadirkan keadilan melalui pembuktian yang objektif, sehingga tidak ada ruang bagi impunitas maupun penghakiman tanpa proses hukum.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap bangsa, kami menyampaikan lima seruan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto:
1. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan tata kelola keamanan di wilayah konflik dengan menempatkan keselamatan warga sipil sebagai prioritas tertinggi.
2. Memastikan seluruh dugaan pelanggaran hak asasi manusia diselidiki secara independen, transparan, profesional, dan akuntabel sesuai prinsip negara hukum.
3. Menjamin perlindungan terhadap tokoh agama, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, perempuan, anak-anak, masyarakat adat, serta seluruh warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
4. Membangun ruang dialog nasional yang inklusif dengan melibatkan pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, organisasi kepemudaan, masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan sebagai jalan menuju penyelesaian damai yang berkeadilan.
5. Memastikan bahwa pembangunan di Papua berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia, keadilan sosial, pemberdayaan masyarakat lokal, dan peningkatan kualitas pendidikan serta pelayanan kesehatan.
GMKI Cabang Tarutung juga menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik agar menghentikan segala bentuk kekerasan. Tidak ada kepentingan apa pun yang dapat membenarkan hilangnya nyawa warga sipil.
Perdamaian tidak akan lahir dari kekerasan, melainkan dari keberanian untuk membangun kepercayaan, membuka ruang dialog, dan menegakkan keadilan. Sebagai umat percaya, kami meyakini bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, setiap tindakan yang merendahkan martabat manusia bertentangan dengan kehendak Allah.
Firman Tuhan berkata: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Matius 5:9). "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7)
Bapak Presiden, Indonesia sedang menuju Indonesia Emas 2045. Namun cita-cita besar tersebut hanya akan bermakna apabila seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, merasakan kehadiran negara secara adil dan bermartabat. Papua bukan halaman belakang republik ini. Papua adalah beranda timur Indonesia yang harus diperlakukan dengan penghormatan, kasih, keadilan, dan tanggung jawab yang sama. Sejarah akan mencatat bukan hanya seberapa besar pembangunan yang berhasil diwujudkan, tetapi juga bagaimana negara melindungi rakyatnya ketika mereka menghadapi ketakutan, kehilangan, dan penderitaan.
GMKI Cabang Tarutung mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan tragedi kemanusiaan di Papua sebagai panggilan bersama untuk memperkuat persatuan, menegakkan hukum, melindungi hak asasi manusia, dan membangun perdamaian yang berkelanjutan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Fiat Justitia Ruat Caelum" — Hendaklah keadilan ditegakkan sekalipun langit runtuh. (*)
**Penulis merupakan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tarutung 2026–2028
