-->

Pematangsiantar Tampil di KPI 2026, Kadisdik Bawa Terobosan Pendidikan Berbasis Data dan Inklusif

Sebarkan:

 

Foto bersama delegasi yang dipimpin langsung oleh Kadisdik Pematangsiantar, Syaiful Rizal, didampingi jajaran strategisnya, yaitu Kabid PAUD Dikdas serta Kabid PTK bersama Erlina Anriani Siahaan, selaku koordinator Lingkar Daerah Belajar (LDB) Kota Pematangsiantar. (Istimewa/ Hastara)



YOGYAKARTA, HASTARA.ID – Ruang Paralel 1 di Gedung Alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (2/7/2026), dipenuhi perwakilan pemerintah daerah dari berbagai penjuru Indonesia.

Masing-masing datang membawa cerita tentang tantangan pendidikan di daerahnya, mulai dari ketimpangan kualitas guru, akses belajar yang belum merata, hingga upaya membangun sekolah yang lebih ramah bagi anak.

Di tengah forum itu, nama Kota Pematangsiantar turut mendapat perhatian. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Pematangsiantar, Syaiful Rizal,  tampil sebagai salah satu narasumber dalam Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) tahun 2026 dan memaparkan berbagai langkah yang tengah dilakukan pemerintah kota untuk mempercepat transformasi pendidikan.

Bagi Pematangsiantar, kehadiran di forum pendidikan nasional tersebut bukan sekadar memenuhi undangan. Momentum itu menjadi ruang belajar sekaligus panggung untuk memperlihatkan bagaimana daerah berupaya menjawab tantangan pendidikan melalui pendekatan yang berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.

Konferensi Pendidikan Indonesia yang diselenggarakan Lingkar Daerah Belajar (LDB) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman mengusung tema “Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada”.

Forum tahunan itu mempertemukan pemerintah daerah, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan berbagai strategi percepatan transformasi pendidikan.

Dalam sesi rembuk daerah, Pematangsiantar berdiskusi bersama Kabupaten Jember, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Ogan Ilir, dan Kabupaten Dharmasraya. Berbagai daerah berbagi praktik baik dan solusi inovatif yang telah diterapkan di wilayah masing-masing.

Syaiful mengungkapkan, persoalan pendidikan saat ini tidak lagi cukup diselesaikan dengan pendekatan administratif semata. Dibutuhkan pemetaan yang jelas mengenai kondisi pendidikan di daerah agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kami telah melakukan pemetaan mulai dari pemerataan dan kompetensi guru dan akan terus melakukan terobosan dengan mengkorelasikan kontekstual kondisi Pematangsiantar dengan program-program prioritas Kemendikdasmen,” ujarnya di hadapan peserta konferensi.

Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan arah kebijakan pendidikan yang sedang dibangun di Kota Pematangsiantar. Pemerataan kualitas guru masih menjadi salah satu pekerjaan besar di banyak daerah di Indonesia.

Ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten dan distribusi guru yang proporsional menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas pembelajaran di sekolah.

Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar mulai memperkuat perencanaan berbasis data melalui pemanfaatan instrumen seperti Rapor Pendidikan Daerah dan pemetaan awal terpadu.

"Langkah tersebut diharapkan mampu membantu pemerintah daerah mengidentifikasi persoalan secara lebih rinci, sekaligus menyusun program yang lebih kontekstual dan tepat sasaran," ungkapnya.

Namun, bagi Syaiful, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada institusi pendidikan. Pendidikan merupakan urusan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Berbicara tentang pendidikan berarti berbicara tentang masa depan, dan ini bukan semata tugas dinas pendidikan, tetapi lintas sektor secara menyeluruh dan terpadu,” katanya.

Pandangan itu sejalan dengan semangat yang diusung dalam KPI 2026, yakni membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berpihak kepada anak. Dalam perspektif tersebut, pemerintah, keluarga, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Partisipasi aktif Kota Pematangsiantar dalam forum nasional ini kemudian mendapat apresiasi berupa penghargaan sebagai narasumber aktif. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas inisiatif dan kolaborasi yang selama ini dibangun di daerah.

Bagi Pemko Pematangsiantar, capaian tersebut bukanlah garis akhir. Justru dari Yogyakarta, Pematangsiantar membawa pulang banyak gagasan baru dan semangat baru. Berbagai praktik baik yang diperoleh melalui dialog dengan daerah lain diharapkan dapat memperkaya kebijakan pendidikan di kota ini.

Rizal menambahkan, di tengah perubahan zaman dan tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan tidak lagi hanya berbicara mengenai ruang kelas dan kurikulum.

"Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan wajah masa depan daerah. (Pemko) Pematangsiantar menunjukkan tekadnya untuk terus bergerak, belajar, dan berbenah demi menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas bagi seluruh anak-anaknya," tandas Rizal mengakhiri. (Tra)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini