![]() |
| PT. KAI memastikan operasional keberangkatan aman. (Hastara.id) |
PEMATANGSIANTAR, HASTARA.ID — Kabut asap yang mulai terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera Utara tidak hanya menjadi persoalan kualitas udara. Bagi perjalanan kereta api, kondisi tersebut juga berkaitan dengan jarak pandang dan keselamatan operasional di sepanjang lintasan.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara memastikan hingga saat ini sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum mengganggu perjalanan kereta api. Namun, kondisi udara tetap dipantau karena perubahan arah dan kepadatan asap dapat memengaruhi situasi di jalur perjalanan.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi apabila kondisi di lapangan berubah.
“Untuk saat ini, kondisi karhutla dan sebaran asap belum mengganggu perjalanan kereta api di wilayah KAI Divre I Sumatera Utara. Pemantauan terus dilakukan, dan apabila terdapat perubahan kondisi yang berdampak pada perjalanan, KAI akan segera menyampaikan informasi kepada pelanggan,” ujar Anwar. Rabu (16/9/2026).
Kondisi operasional hingga pertengahan September juga masih menunjukkan ketepatan waktu yang tinggi. Dari 1.022 perjalanan KA penumpang yang dioperasikan pada 1–16 September 2026, tingkat ketepatan waktu keberangkatan tercatat 100 persen, sedangkan kedatangan mencapai 99,2 persen.
Menurut Anwar, capaian tersebut menunjukkan operasional kereta api masih terjaga meski sejumlah wilayah Sumatera Utara mulai terdampak kabut asap.
Keamanan perjalanan tidak hanya mengandalkan pandangan visual masinis. KAI juga mengandalkan rambu-rambu di sepanjang lintasan yang menjadi pedoman saat kereta berjalan, mendekati stasiun hingga berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
Data BMKG pada 16 September 2026 menunjukkan asap terdeteksi di sebagian wilayah Sumatera Utara dan bergerak ke arah barat laut mengikuti pola angin. Sehari sebelumnya, hotspot terpantau di Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Padang Lawas Utara, Tapanuli Utara, Toba dan Tapanuli Selatan.
Di tengah kondisi tersebut, KAI meminta pelanggan yang berada di wilayah terdampak untuk mengurangi paparan asap. Penumpang yang harus bepergian menuju stasiun juga dianjurkan menggunakan masker yang terpasang rapat menutupi hidung dan mulut.
Masyarakat turut diminta tidak membakar sampah, lahan maupun rumput kering di sekitar jalur kereta api. Selain berisiko terhadap kesehatan, asap dari pembakaran dapat memperburuk jarak pandang masinis.
“KAI Divre I Sumatera Utara akan terus memantau perkembangan kondisi udara di sepanjang jalur kereta api. Kami mengimbau seluruh pelanggan dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan perjalanan kereta api serta mematuhi arahan petugas di stasiun demi kenyamanan bersama,” kata Anwar. (Tra)
.jpg)