-->

RE Nainggolan Soroti Tujuh Unsur Kunci Pendidikan Kristen, Gereja hingga Pemerintah Diminta Berperan

Sebarkan:

 

Tokoh Masyarakat Batak, Rustam Effendi (RE) Nainggolan yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara saat diwawancarai baru-baru ini. Istimewa/Hastara.id
TAPUT, HASTARA.ID — Pembangunan pendidikan Kristen tidak bisa hanya bertumpu pada sekolah dan guru. Diperlukan sinergi lintas sektor, mulai dari gereja, yayasan, kepala sekolah, tenaga pendidik, dunia usaha, pemerintah hingga Majelis Pendidikan Kristen (MPK), agar sekolah-sekolah Kristen mampu berkembang dan melahirkan generasi unggul.

Hal itu ditegaskan RE Nainggolan saat diwawancarai awak media di sela-sela kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Gedung Sopo Partungkoan, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Kamis (15/10/2026).

Menurut RE Nainggolan, terdapat tujuh unsur penting yang harus mengambil bagian dalam membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan Kristen di Indonesia. Ketujuh unsur tersebut memiliki peran dan tanggung jawab yang saling berkaitan sehingga tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Ia menekankan, gereja harus memberikan perhatian nyata terhadap perkembangan pendidikan Kristen. Dukungan tersebut diperlukan agar pendidikan tidak hanya menjadi aktivitas kelembagaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama dalam mempersiapkan generasi masa depan.

Peran yayasan penyelenggara pendidikan juga menjadi sorotan. Yayasan tidak seharusnya semata-mata berorientasi pada keuntungan, tetapi harus menunjukkan komitmen terhadap pengembangan sekolah yang dikelolanya, termasuk peningkatan mutu pendidikan. Di tingkat satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut memiliki tekad kuat untuk mendorong peningkatan prestasi. Sementara itu, guru memegang peran strategis dalam proses pembelajaran dan pembentukan generasi yang cerdas serta berkualitas.

Tak kalah penting, dunia usaha dan pemerintah diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan pendidikan Kristen. Dukungan kedua unsur tersebut dinilai penting untuk memperkuat upaya pengembangan sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan. 

Adapun MPK diharapkan mampu mengambil peran dalam mendorong penguatan pendidikan Kristen melalui koordinasi, kolaborasi, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

Kolaborasi Jadi Kunci 

RE Nainggolan berharap, keterlibatan ketujuh unsur tersebut dapat meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan Kristen, sekaligus memperkuat kemampuan sekolah-sekolah Kristen dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

Menurutnya, pembangunan pendidikan Kristen membutuhkan proses dan komitmen berkelanjutan. Tanpa perhatian bersama, upaya meningkatkan kualitas sekolah dan melahirkan generasi yang berdaya saing akan sulit mencapai hasil maksimal.

“Dalam konteks tujuh unsur dan tiga hal penting, kita berharap pada masa depan akan semakin banyak perhatian untuk membangun dunia pendidikan Kristen. Itulah proses-proses yang kita upayakan sehingga lahir generasi cerdas dari dunia pendidikan Kristen,” ujarnya. 

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kemajuan pendidikan Kristen bukan hanya tanggung jawab pengelola sekolah, melainkan membutuhkan komitmen nyata dari seluruh unsur yang memiliki peran dalam mendukung pendidikan.

Melalui Rakernas V MPK, sinergi antarpemangku kepentingan diharapkan semakin kuat sehingga pendidikan Kristen mampu memberikan kontribusi lebih besar dalam mencetak generasi cerdas, berkualitas, dan berdaya saing di Indonesia. (os)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini