-->

Ini Tiga Penyebab Meningkatnya Kasus Tawuran di Kota Pematangsiantar

Sebarkan:

 

 Kegiatan ekstrakurikuler yang bervariasi juga dinilai efektif dalam menyalurkan energi dan pemikiran siswa dan mencegah aksi bolos dan tawuran antar sekolah di Kota Pematangsiantar.  Istimewa / Hastara.id

PEMATANGSIANTAR, HASTARA.ID- Kasus bolos dan tawuran antar sekolah di kalangan pelajar di Pematangsiantar, Sumatra Utara, semakin marak dan meresahkan masyarakat. 


Ketua Tim Patroli Sekolah Dinas Pendidikan Pematangsiantar, Juniar Sinaga, mengungkapkan bahwa pihaknya secara rutin melakukan razia setiap hari dan menemukan siswa yang bolos.


"Setiap hari kami melaksanakan razia rutin. Kasus siswa yang bolos itu relatif, tapi yang pasti ada saja yang kami jaring setiap harinya," ujar Juniar Sinaga saat dikonfirmasi. Selasa (18/2/2025)


Ia menuturkan, lokasi yang sering menjadi tempat siswa bolos adalah kafe-kafe. Siswa yang terjaring razia akan dibawa ke kantor Dinas Pendidikan untuk pendataan dan pembinaan, kemudian diserahkan ke pihak sekolah masing-masing.


Juniar Sinaga memaparkan tiga alasan utama yang menyebabkan tingginya angka ketidakhadiran siswa di sekolah. Pertama, siswa terlambat datang ke sekolah. Kedua, siswa belum membayar kewajiban seperti uang sekolah, uang praktik, dan lainnya. Ketiga, kurangnya pengawasan dari pihak sekolah.


"Alasan hasil temuan beragam, ada yang terlambat, ada yang belum membayar kewajiban seperti uang sekolah, praktik, dan lain-lain. Ada juga memang bolos karena rendahnya pengawasan pihak sekolah," jelasnya.


Tim Patroli Sekolah juga memberikan pembinaan kepada siswa yang terjaring razia. Juniar Sinaga mengatakan, tidak jarang siswa tersebut sampai menangis karena tersentuh hatinya dan menyadari betapa sulitnya orang tua mereka berjuang untuk pendidikan mereka.


 Berdasarkan informasi dari Juniar Sinaga, waktu dan lokasi rawan tawuran dan anak didik bolos sekolah biasanya terjadi di sekitaran Pasar Horas, Taman Bunga, dan tanah lapang, terutama saat jam pulang sekolah.


"Kalau waktu dan lokasi rawan tawuran, biasanya di sekitaran pasar horas dan taman bunga dan tanah lapang. Dan waktunya biasanya pulang sekolah," tuturnya. 


Peningkatan kasus bolos dan tawuran ini menjadi perhatian serius bagi Dinas Pendidikan Pematangsiantar. Juniar Sinaga berharap, dengan adanya razia rutin dan pembinaan yang dilakukan, dapat menekan angka kasus bolos dan tawuran di kalangan pelajar.


 Ia juga mengimbau kepada pihak sekolah dan orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap siswa agar tidak terlibat dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.


"Kurangnya pengawasan dari orang tua, guru, atau pihak sekolah dapat membuat pelajar merasa bebas untuk melakukan tindakan bolos dan tawuran," tutupnya.


Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Pematangsiantar, Hendra Pardede, mendorong agar pihak penegak hukum dan juga dinas pendidikan lebih aktif untuk melaksanakan sosialisasi dan patroli.


"Kita menyampaikan agar lebih aktif melakukan sosialisasi di sekolah dan ikut melakukan patroli baik siang maupun malam. Mereka kan sudah pasti tau mana yang masih pelajar dan tidak," ungkapnya.


Ia menambahkan adanya koordinasi dalam  pengawasan baik dari orangtua, sekolah, dan pemerintah daerah juga penting.


"Selain aparat penegak hukum dan Disdik, peran dan pengawasan orangtua juga penting. Saya mengajak kepada orang tua agar kita bersama-sama melakukan pengawasan kepada anak -anak kita agar tidak terjadi lagi hal - hal seperti ini," ujarnya.


Pemerintah daerah, lanjutnya, diharapkan dapat memberikan fasilitas olahraga kepada anak -anak remaja.


"Pemko bisa memberikan fasilitas, agar mereka lebih fokus dan menjauhkan diri dari hal hal negatif karena mereka inilah generasi penerus kita," tutupnya.


Menanggapi hal ini, Pengamat Pendidikan, Ari S. Widodo Poespodihardjo, menilai bahwa fenomena bolos sekolah dan tawuran di kalangan siswa terjadi karena adanya kejenuhan dalam proses pembelajaran. 


"Ketidaknyamanan siswa di sekolah bisa jadi disebabkan oleh masalah dengan guru atau teman sebaya.  Pentingnya pendekatan pendidikan yang lebih fleksibel namun tegas kepada anak siswa kita," ujarnya saat dikonfirmasi. 


Ari juga menyarankan perlunya peraturan kedisiplinan yang lebih tegas di sekolah-sekolah. Menurutnya, regulasi yang kuat dapat memberikan efek jera bagi siswa yang melanggar aturan. 


"Sekolah harusnya hadir memberikan peraturan ekstra keras tentang kedisiplinan di mana pelanggaran akan ditindak sangat tegas dan mungkin saja siswa dikeluarkan," tegas Ari.  


Selain penegakan disiplin, kegiatan ekstrakurikuler yang bervariasi juga dinilai efektif dalam menyalurkan energi dan pemikiran siswa. Misalnya kegiatan organisasi, olahraga, sosial, dan keterampilan.


"Harus ada cara yang baik untuk memberikan kesempatan mereka yang sedang mengalami perkembangan tersebut dalam ranah yang baik," tuturnya. 


Dengan meningkatnya kasus bolos sekolah di Pematangsiantar, ia menambahkan kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah diperlukan untuk mencari solusi yang efektif. 


"Selain itu, inovasi dalam metode pembelajaran dan penguatan kegiatan positif bagi siswa sangat dibutuhkan agar mereka kembali termotivasi untuk belajar dan berprestasi," pungkas Ari Widodo. (put)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini