![]() |
Pengurus Perbarindo Sumut, narasumber, dan peserta diabadikan di sela-sela pelatihan soal analisa kredit bagi pegawai BPR/S. Istimewa/Hastara.id |
MEDAN, HASTARA.ID — Pegawai Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di Sumatera Utara kembali mendapat 'suplemen pengetahuan' lewat pelatihan analisa kredit dan audit berbasis risiko.
DPD Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat (Perbarindo) Sumut sebagai leading sector pelatihan yang berlangsung dua hari di Tiara Convention Medan, dimana menghadirkan narasumber dari kalangan Profesional Trainer, Rustam Silaen.
Pelatihan di hari pertama, Senin (10/2), membahas soal analisa kredit mikro, teknik praktis, monitoring dan pencegahan kredit bermasalah. Sedangkan di hari kedua akan membahas audit berbasis risiko dan pengelolaan risiko fraud pada bidang operasi dan perkreditan.
Pengawas Senior Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) I, Robby Satya Andhika mewakili Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumut, menyampaikan bahwa analisis kredit analisis pembiayaan itu menjadi jantungnya BPR/S.
"Kalau baik analisisnya maka baik kreditnya, buruk analisisnya buruk juga kreditnya sehingga penerapan manajemen risiko dalam mengandalkan analisis kredit itu menjadi kewajiban bagi bapak-bapak," kata Robby dalam sambutannya sembari membuka acara pelatihan.
Robby mengatakan manajemen dan bisnis itu sama pentingnya, sehingga saat dihadapkan dalam dua pilihan harus memilih yang tidak bisa berjalan bersama bisnis dan manajemen risiko.
"Kenapa saya sampaikan begitu, karena BPR dan BPRS secara kegiatan belum begitu kompleks, artinya aktivitas kita itu masih ditopang oleh yang namanya aktivitas kredit sama aktivitas operasional," ujarnya.
"Di Sumatera Utara ini belum ada BPR ataupun BPRS yang punya kode risiko likuiditas yang tinggi, tetapi mungkin di beberapa provinsi lain sudah ada karena asetnya sudah triliunan," sambung Robby.
Dewan Pengawas Perbarindo Sumut, Madi Simbolon, mewakili ketua DPD Perbarindo Sumut mengharapkan para peserta supaya sungguh-sungguh belajar dengan cepat.
"Sehingga kita kembali ke kantor kita masing-masing, bisa kita tingkatkan kinerja kita dibandingkan dengan tahun-tahun lalu," harapnya.
Madi mengatakan, BPR/S itu tidak akan berkembang kalau tingkat kesehatannya bermasalah. Karena salah melakukan hal seperti perencanaan sampai pengawasan, bisa menyebabkan bank mengalami kerugian.
"Terimakasih kepada bagian pelatihan yang sudah membuat topik ini sebagai awal pembuka kita melaksanakan merealisasikan bisnis saya atau daripada bisnis kita masing-masing dengan benar tahun 2025 ini," ungkapnya.
Sekretaris Perbarindo Sumut, Mery Sulianty Sitanggang, menyampaikan pelatihan ini diikuti 64 peserta dari 21 BPR di hari pertama dan 33 peserta dari 18 BPR di hari kedua.
"Pelatihan ini diadakan untuk meningkatkan kompetensi account officer dalam analisa kredit, dan awareness bagi seluruh peserta terhadap fraud bagi BPR," katanya.
Turut hadir pengurus Perbarindo Sumut, Adi Junianto selaku Ketua Bidang Hub Kelembagaan dan Hisar Sitanggang selaku Biro Pendidikan & SDM, Mateus M Manik selaku Ketua Bidang Humas, Katarina L Sihombing selaku Biro Organisasi & Keanggotaan, dan Rezki Atika Hasibuan selaku Bendahara. (*/rel)