-->

Taman Tugu Juang 45 Medan: Monumen Perjuangan yang Kian Merana

Sebarkan:

 

Kondisi Taman Tugu Juang 45 di persimpangan Jalan HM Yamin, Medan kian memprihatinkan. Padahal tugu ini dibangun sebagai monumen sejarah Bangsa Indonesia. Google/hastara.id

MEDAN, HASTARA.ID — Taman Tugu Juang 45 kini seolah menjadi saksi bisu keterlantaran di tengah hiruk pikuk Kota Medan. Monumen yang dahulu dibangun sebagai simbol semangat kemerdekaan, kini justru memprihatinkan — ditelan usia, terabaikan pengelolaan, dan dihantam persoalan sosial yang kian meruncing.

Berlokasi di persimpangan Jalan HM Yamin, Medan Perjuangan, tugu ini diresmikan pada 10 November 1984. Namun kini, semangat perjuangan yang terkandung di balik namanya tak lagi tercermin dari kondisi fisiknya. Trotoar retak dan menganga, penutup drainase pecah-pecah, bahkan sebagian amblas ke parit.

Paling menyedihkan lagi, taman ini kini gelap gulita setiap malam. Dari pantauan wartawan, Jumat  (18/4/2025), seluruh lampu taman tidak lagi berfungsi. Sepuluh tiang lampu gantung yang tersebar di sekeliling taman tampak menyedihkan — sebagian hilang, sebagian lainnya mati total. Dugaan kuat, lampu-lampu ini dicuri untuk dijual ke penadah barang bekas.

“Sudah lebih tiga tahun kayak gini,” ujar R Napitupulu, warga sekitar yang sehari-hari mengais rezeki dari sampah plastik. 

Ia kerap menghabiskan sore bersama istrinya di bangku taman, meski kondisi gelap dan tak nyaman. 

“Lampunya habis dicuri orang nyabu. Petugas taman pun jarang kelihatan. Jumat sampai Minggu sepi total," sambungnya. 

Hal senada disampaikan Biana Gultom, warga lain yang sedang beristirahat di bawah pohon bersama kandungan yang tengah membesar. Ia menuturkan, sering melihat orang-orang tak dikenal mondar-mandir mencopot kabel, besi, hingga lampu taman. 

“Mereka jual ke Kampung Durian, di sana tempat penampungan besi bekas,” ujarnya.

Ia dan warga lain merasa risih jika dicurigai sebagai pelaku perusakan. 

“Kami tiap hari di sini, bukan untuk merusak. Kami justru yang jagain taman ini, karena kami hidup dari lingkungan ini juga," ungkap Biana. 

Minimnya pengawasan dari pihak terkait — baik OPD, kecamatan, maupun kelurahan — menjadi salah satu faktor utama lemahnya penjagaan aset publik ini. Tak ada patroli rutin dari aparat hukum, sehingga para pelaku pencurian bisa bebas beraksi tanpa takut tertangkap.

Taman Tugu Juang 45 bukan hanya sekadar taman, tapi simbol perjuangan dan sejarah. Sayangnya, kini monumen ini justru menjadi potret kelam tentang kelalaian dan pembiaran. Masyarakat menunggu, kapan semangat perjuangan itu kembali dibangkitkan, bukan hanya dalam cerita, tapi juga dalam tindakan nyata. (has)


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini