![]() |
| Sekretaris Fraksi PKS DPRD Provinsi Sumatera Utara, Abdul Rahim Siregar. Istimewa |
OLEH: Abdul Rahim Siregar
Delapan puluh tahun perjalanan kemerdekaan Indonesia adalah anugerah yang patut kita syukuri sekaligus amanah besar yang harus kita pertanggungjawabkan. Sejarah mencatat, kemerdekaan ini tidak hadir sebagai hadiah, melainkan hasil dari perjuangan berdarah-darah para pahlawan yang mengorbankan harta, jiwa, dan raga demi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya".
1. Kemerdekaan sebagai Anugerah dan Amanah
Kemerdekaan adalah anugerah Allah SWT yang diperoleh melalui ikhtiar panjang bangsa ini. Oleh karena itu, 80 tahun merdeka harus kita maknai bukan sekadar sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai momentum refleksi:
1. Apakah kita sudah mewujudkan cita-cita proklamasi?
2. Apakah kesejahteraan sudah dirasakan rakyat dari Sabang sampai Merauke?
3. Apakah bangsa ini benar-benar berdaulat di bidang pangan, energi, politik, ekonomi, dan pendidikan?
2. Evaluasi Kebangsaan: Pekerjaan Rumah yang Belum Tuntas
Perjalanan delapan dekade menunjukkan banyak capaian, tetapi juga masih menyisakan pekerjaan rumah besar: Ketimpangan sosial-ekonomi masih mencolok antara desa dan kota, Jawa dan luar Jawa: Korupsi dan penyalahgunaan kewenangan masih menjadi musuh bangsa yang menggerogoti kepercayaan publik: Pendidikan dan kualitas SDM belum sepenuhnya menjawab tantangan revolusi industri dan era digital: Ketahanan pangan dan energi masih rentan oleh guncangan global. Kita patut bersyukur, namun jangan cepat berpuas diri.
3. Inspirasi dari Pidato Presiden 15 Agustus 2025
Pidato Presiden RI ke-8 pada Sidang Paripurna MPR/DPR/DPD di Senayan Jakarta menegaskan arah bangsa menuju 2045.
1. Ketahanan pangan dengan anggaran Rp 164,4 triliun untuk swasembada.
2. Ketahanan energi dengan Rp 402,4 triliun untuk energi baru terbarukan.0P
3. Investasi pendidikan sebesar Rp 757,8 triliun, terbesar sepanjang sejarah, sebagai senjata utama mencetak SDM unggul.
Ini adalah cermin keseriusan bangsa: membangun fondasi yang kokoh agar cita-cita kemerdekaan tidak tinggal slogan.
4. Peran Strategis Elite Bangsa dan Dunia Pendidikan
Presiden dan Kepala Daerah adalah nahkoda yang menentukan arah pembangunan. Integritas, keberanian, dan visi jauh ke depan harus menjadi pegangan.
Anggota Dewan adalah wakil rakyat yang mengawal amanah konstitusi. Legislasi dan pengawasan harus berpihak pada rakyat kecil, bukan pada kepentingan sesaat.
Rektor, dosen, dan guru adalah benteng moral dan intelektual bangsa. Dari ruang kelaslah lahir generasi emas 2045 yang mampu bersaing di panggung dunia.
5. Warisan untuk Generasi Emas
Warisan terbaik bagi generasi penerus bukan hanya infrastruktur megah atau angka pertumbuhan ekonomi, tetapi akhlak mulia, keadilan sosial, dan kemandirian bangsa.
Maka, perubahan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya ditopang oleh pemerintah, melainkan oleh kesadaran kolektif seluruh rakyat.
Penutup: Menuju Indonesia Emas 2045
Delapan puluh tahun merdeka adalah tonggak sejarah untuk menoleh ke belakang, menatap ke depan, dan melangkah dengan mantap. Pertanyaan besar bagi kita: Quo Vadis Indonesia?
Jawabannya adalah komitmen bersama: menjadikan Indonesia adil, makmur, berdaulat, dan menjadi rahmat bagi semesta.
Kemerdekaan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjuangan panjang membangun peradaban negeri yang kita cintai. (*)
***Penulis merupakan Sekretaris F-PKS DPRD Sumut
