![]() |
| Ilustrasi foto panic buying warga Medan menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU dipicu isu kekhawatiran akan ketersediaan minyak dunia dampak perang Amerika dan Iran. Artificial Intellegence/AI |
MEDAN, HASTARA.ID — PT Pertamina (Persero) diminta memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat terkait kondisi ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), menyusul terjadinya antrian kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam beberapa hari terakhir, khususnya di Kota Medan. Antrean kendaraan tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Kondisi ini diduga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran, yang berpotensi mempengaruhi stabilitas harga minyak dunia serta pasokan energi secara global. Situasi geopolitik yang memanas seringkali berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia.
"Pemberitaan mengenai potensi kenaikan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM atau gangguan distribusi di dalam negeri. Akibatnya, sebagian masyarakat memilih untuk membeli BBM lebih banyak dari biasanya, sehingga menimbulkan antrean di sejumlah SPBU," ujar Ketua Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi Siregar melalui pernyataan tertulis pada Kamis (5/3/2026).
Kondisi tersebut dinilai perlu segera direspons dengan komunikasi yang jelas dan transparan dari pihak terkait, khususnya Pertamina sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap distribusi BBM nasional. Penjelasan resmi mengenai kondisi stok, distribusi, serta jaminan ketersediaan BBM dinilai penting untuk meredam spekulasi yang berkembang di masyarakat.
"Keterbukaan informasi kepada publik merupakan langkah penting untuk menjaga stabilitas situasi di tengah masyarakat. Dengan adanya penjelasan resmi dari Pertamina, masyarakat diharapkan memperoleh kepastian mengenai kondisi pasokan BBM dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang belum tentu benar," tegasnya.
LAPK mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying. Pembelian BBM sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan agar distribusi dapat berjalan normal dan tidak memperparah antrean di SPBU.
"Perilaku panic buying justru dapat memicu kelangkaan semu di lapangan, meskipun pada kenyataannya pasokan BBM masih tersedia. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat bersikap bijak serta tidak terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi," terangnya.
LAPK juga berharap pemerintah terus melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM di berbagai daerah, termasuk Kota Medan, guna memastikan pasokan tetap tersedia dan tidak terjadi praktik penimbunan yang dapat merugikan masyarakat sebagai konsumen. Stabilitas distribusi energi sangat penting bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat sehari-hari.
"Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah, Pertamina, serta seluruh pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar distribusi BBM tetap terjaga dan situasi di masyarakat tetap kondusif," pungkasnya. (has)
