Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya (BMBKCK) telah mengalokasikan anggaran hampir Rp15 miliar untuk proyek peningkatan struktur jalan tersebut. Namun, masyarakat memilih bersikap hati-hati dan belum ingin terlalu cepat bersorak.
Tokoh masyarakat Kecamatan Galang, H Nurdin Barus, menegaskan warga saat ini hanya bisa menunggu realisasi pekerjaan di lapangan setelah selama ini berulang kali mendengar janji perbaikan yang tak kunjung terealisasi.
"Kalau memang benar dikerjakan, tentu ini kabar baik bagi masyarakat. Tetapi warga sekarang memilih wait and see karena sudah terlalu sering mendengar janji perbaikan," kata Nurdin Barus kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).
Berdasarkan data pengadaan, proyek Peningkatan Struktur Jalan Provinsi Ruas Tanah Abang–Galang–Batas Sergai memiliki pagu anggaran Rp15 miliar dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp14,99 miliar. Paket pekerjaan tersebut dimenangkan oleh PT Cipta Karya Nusantara dengan nilai kontrak sekitar Rp14,8 miliar.
Selama beberapa tahun terakhir, kondisi jalan tersebut menjadi sorotan masyarakat. Permukaan jalan yang berlubang, bergelombang, dan rusak berat dinilai membahayakan pengguna jalan serta menghambat mobilitas warga dan distribusi barang.
Menurut Nurdin, kerusakan jalan diduga dipicu tingginya intensitas kendaraan bertonase besar, terutama truk pengangkut tanah timbun dan material lainnya yang kerap melintas dengan muatan melebihi kapasitas jalan.
Akibat kondisi itu, tidak sedikit pengendara sepeda motor maupun kendaraan angkutan barang yang mengalami kecelakaan. Bahkan sejumlah truk dilaporkan mengalami patah as hingga terguling saat melintasi ruas jalan tersebut.
"Jalan ini sudah lama menjadi penderitaan masyarakat. Banyak korban berjatuhan, kendaraan rusak, distribusi barang terganggu, dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdampak," ujarnya.
Nurdin Barus mengingatkan, perbaikan fisik jalan tidak akan memberikan manfaat jangka panjang apabila pemerintah tidak dibarengi dengan pengawasan ketat terhadap kendaraan overload yang selama ini diduga menjadi penyebab utama kerusakan.
"Kita minta semua pihak peduli. Kalau nanti jalannya sudah bagus, jangan lagi ada kendaraan yang membawa muatan berlebihan. Percuma anggaran miliaran rupiah digelontorkan kalau beberapa bulan kemudian rusak lagi," tegasnya.
Sebelumnya, kata Nurdin, kekecewaan warga terhadap lambatnya penanganan jalan sempat memunculkan wacana aksi pemblokiran jalan. Bahkan sejumlah warga berencana mendirikan panggung di badan jalan sebagai bentuk protes apabila hingga akhir Juni 2026 tidak ada tanda-tanda perbaikan.
"Warga sudah lelah menunggu. Setiap kali melintas dan melihat kondisi jalan itu, emosi masyarakat langsung terpancing. Karena itu sempat muncul rencana menutup jalan sebagai bentuk protes," ungkapnya.
Meski demikian, munculnya informasi mengenai proyek perbaikan membuat masyarakat untuk sementara mengurungkan rencana tersebut dan memilih menunggu pembuktian dari pemerintah.
"Kami berharap proyek ini benar-benar berjalan dan selesai dengan kualitas yang baik. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan lagi janji, tetapi bukti di lapangan," pungkasnya. (red)

