![]() |
| Kolase foto Wandro Abadi Malau dan Benny Sinomba Siregar. Istimewa/Hastara.id |
Di tengah derasnya kritik publik, Wandro terkesan 'pasang badan' dengan menegaskan bahwa pengiriman air ke rumah Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, Benny Sinomba Siregar, bukan merupakan permintaan khusus dari yang bersangkutan maupun bentuk perlakuan istimewa.
Polemik mencuat ketika Kota Medan masih dilanda krisis air bersih akibat gangguan distribusi oleh Perumda Tirtanadi Sumut. Dalam situasi tersebut, viral video yang memperlihatkan satu unit mobil Damkar berada di kediaman Benny Sinomba Siregar di Jalan STM Gang Suka Cita, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor.
Video itu langsung memantik kemarahan warga. Mereka mempertanyakan skala prioritas pendistribusian air bersih di saat ribuan pelanggan lain masih kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari. Namun Wandro menegaskan armada Damkar hanya membantu pendistribusian air berdasarkan permintaan yang diterima Perumda Tirtanadi.
"Pengaduan ke PDAM, kita bantu. Yang membawa ke lokasi pihak PDAM," kata Wandro saat dikonfirmasi, Rabu malam (10/6/2026).
Ia juga secara khusus membantah adanya permintaan langsung dari Benny Sinomba Siregar kepada Damkarmat Kota Medan.
"Bukan. Bukan permintaan beliau ke Damkarmat," tegasnya.
Pernyataan itu muncul setelah publik mempertanyakan mengapa armada Damkar terlihat memasok air ke rumah seorang pejabat saat banyak warga mengaku belum mendapatkan bantuan serupa.
Menurut Wandro, seluruh armada Damkar yang tersedia saat ini memang diperbantukan untuk mendukung distribusi air bersih ke berbagai wilayah terdampak gangguan layanan Perumda Tirtanadi.
"Armada kita diperbantukan ke seluruh kecamatan yang terdampak," ujarnya.
Sebelumnya, puluhan warga Jalan STM Gang Suka Cita, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, menggelar aksi protes, Rabu (10/6), menyusul dugaan adanya pengisian pasokan air bersih oleh mobil Damkar ke rumah Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, Benny Sinomba Siregar, di tengah krisis air yang dialami masyarakat setempat.
Warga yang didominasi kaum emak-emak (ibu-ibu) ini menilai, tindakan tersebut tidak mencerminkan rasa keadilan karena mereka telah mengalami gangguan pasokan air sejak malam hari tanpa mendapatkan bantuan serupa.
“Kami sudah tidak mendapatkan air sejak malam. Tapi justru ada mobil Damkar yang mengisi air ke rumah pejabat. Sementara masyarakat tidak dilayani,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa.
Ketegangan sempat terjadi ketika sejumlah warga mempertanyakan prioritas distribusi air bersih di tengah kebutuhan masyarakat yang mendesak.
Warga yang berkumpul di lokasi meminta pemerintah memberikan penjelasan terkait mekanisme penyaluran bantuan air bersih serta alasan rumah pejabat mendapatkan pasokan di saat warga lain mengalami kesulitan. (has)
