![]() |
| Mantan aktivis mahasiswa, Zainuddin, menyoroti lemahnya keberpihakan pemerintah atas aksi demonstrasi di Jakarta pada Jumat (12/6/2026). Istimewa/Hastara.id |
MEDAN, HASTARA.ID — Gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah kembali menggema dari kalangan mahasiswa. Aksi demonstrasi pada Jumat (12/6/2026) oleh mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di Jakarta, dinilai menjadi sinyal kuat bahwa keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi semakin meluas.
Mantan aktivis mahasiswa, Zainuddin, menilai aksi tersebut bukan sekadar gerakan kampus, melainkan cerminan kegelisahan publik atas tekanan ekonomi yang kian berat dirasakan masyarakat.
“Mahasiswa menyampaikan aspirasi yang lahir dari keresahan masyarakat. Ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini,” ujar Zainuddin kepada Hastara.id, Sabtu (13/6).
Menurut Zainuddin, melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta berbagai kebijakan ekonomi yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat telah memicu ketidakpuasan di berbagai lapisan masyarakat.
Zainuddin menilai pemerintah saat ini terkesan lebih sibuk menjalankan agenda dan program prioritas masing-masing lembaga dibanding memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi rakyat sehari-hari.
“Rakyat membutuhkan kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar mereka. Pemerintah harus hadir memberikan jalan keluar, bukan justru menambah beban masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti sejumlah kebijakan yang memicu polemik di ruang publik, mulai dari kebijakan perpajakan, imbauan penghematan kepada masyarakat di tengah sorotan terhadap penggunaan anggaran negara, hingga berbagai program yang dinilai belum menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.
Lebih lanjut menurut Zainuddin, aksi mahasiswa di Jakarta menjadi peringatan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah mulai diuji. Jika berbagai aspirasi yang disuarakan tidak mendapat respons serius, bukan tidak mungkin gelombang protes serupa akan meluas ke berbagai daerah.
“Ketika keresahan masyarakat tidak mendapatkan ruang penyelesaian, mahasiswa akan terus menjadi corong kritik. Potensi aksi yang lebih besar sangat mungkin terjadi,” tegasnya.
Dalam demonstrasi yang berlangsung di kawasan Bundaran HI, mahasiswa dari BEM UI bersama mahasiswa dari UPN Veteran Jakarta dan IPB University menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah.
Kelima tuntutan tersebut meliputi penghentian pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian praktik militerisme di ranah sipil, dan desakan agar pemerintah lebih terbuka menerima kritik serta mengakui kesalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Aksi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan ekonomi dan tata kelola pemerintahan masih menjadi perhatian serius generasi muda yang menuntut keberpihakan negara terhadap kepentingan rakyat. (has)
