-->

CYEA Minta Publik Objektif Sikapi Proyek AMI

Sebarkan:

 

Petugas PLN saat melakukan pemasangan Smart Meter PT PLN (Persero) di rumah pelanggan, belum lama ini. Istimewa/Hastara.id 

JAKARTA, HASTARA.ID — Center for Youth Energy Appreciation (CYEA) mengajak masyarakat menyikapi secara objektif polemik yang berkembang terkait proyek Advanced Metering Infrastructure (AMI) atau Smart Meter PT PLN (Persero). 

Organisasi tersebut menilai penilaian terhadap program strategis nasional harus didasarkan pada fakta implementasi dan manfaat yang telah dirasakan masyarakat, bukan semata-mata pada opini maupun dugaan yang beredar di ruang publik.

Direktur CYEA, Jefferson, mengatakan proyek Smart Meter AMI merupakan bagian dari transformasi digital PLN yang telah dijalankan secara bertahap sejak 2023. Program tersebut kini telah diterapkan di berbagai daerah dan dinilai membawa perubahan signifikan terhadap kualitas layanan kelistrikan.

"Kami menghormati setiap proses hukum apabila terdapat dugaan pelanggaran dalam suatu proyek. Namun, publik juga perlu melihat fakta bahwa implementasi Smart Meter AMI telah berjalan sejak 2023 dan telah menjangkau sekitar 1,2 juta pelanggan di delapan Unit Induk Distribusi," ujar Jefferson dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).

Program ini menurutnya telah memberikan manfaat nyata melalui peningkatan akurasi pencatatan konsumsi listrik, percepatan penanganan gangguan, peningkatan efisiensi pelayanan, serta transparansi penggunaan energi bagi pelanggan. 

"Fakta-fakta tersebut penting menjadi bagian dari informasi yang diterima masyarakat agar tidak terjadi pembentukan opini yang mengabaikan realitas implementasi di lapangan," ujarnya. 

Menurut Jefferson, digitalisasi yang dijalankan PLN merupakan bagian dari transformasi menyeluruh yang mencakup sistem pembangkitan, transmisi, distribusi, layanan pelanggan hingga tata kelola perusahaan. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi dalam membangun sistem kelistrikan nasional yang lebih modern, efisien, dan berbasis data.

Salah satu wujud transformasi tersebut adalah implementasi Smart Meter AMI yang memungkinkan pencatatan konsumsi listrik dilakukan secara otomatis dan real time. 

Teknologi ini disebut mampu meningkatkan akurasi pencatatan, mempercepat penanganan gangguan, mengurangi potensi kesalahan pencatatan manual, sekaligus menghadirkan layanan yang lebih transparan bagi pelanggan.

CYEA mencatat, sejak implementasi dimulai pada 2023, PLN telah mengganti meteran konvensional pada sekitar 1,2 juta pelanggan yang tersebar di delapan Unit Induk Distribusi (UID), yakni Sumatera Utara, Banten, Jakarta Raya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, serta Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat.

Menurut CYEA, capaian tersebut menjadi indikator bahwa transformasi digital di sektor ketenagalistrikan telah berjalan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas layanan publik.

Selain menguntungkan pelanggan melalui akses informasi penggunaan listrik yang lebih akurat dan transparan, sistem AMI juga dinilai meningkatkan efisiensi operasional PLN. Teknologi tersebut memungkinkan percepatan identifikasi gangguan jaringan, mengurangi kehilangan energi, mengoptimalkan pemeliharaan sistem distribusi, hingga mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Jefferson menegaskan, setiap dugaan pelanggaran dalam proyek strategis nasional tetap harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah. Namun, menurutnya, informasi mengenai manfaat dan capaian implementasi program juga harus menjadi bagian dari ruang informasi publik agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh dan berimbang.

CYEA berharap PLN dapat terus melanjutkan transformasi digital secara konsisten dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola perusahaan yang baik. Langkah tersebut dinilai penting untuk mewujudkan sistem kelistrikan nasional yang semakin andal, cerdas, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. (rel)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini