-->

Sepekan Berlangsung, UMKM Keluhkan PRSU Sepi: HTM Mahal Dituding Bunuh Daya Beli Pengunjung

Sebarkan:

 

Salah satu pelaku UMKM di kawasan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, Rabu (8/7/2026) malam, mengeluhkan rendahnya transaksi penjualan dan berharap penyelenggara mengevaluasi harga tiket serta menambah agenda hiburan untuk meningkatkan kunjungan masyarakat. Istimewa/Hastara.id 
MEDAN, HASTARA.ID — Memasuki sepekan penyelenggaraan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026, geliat pesta rakyat yang selama ini menjadi etalase promosi daerah dan penggerak ekonomi kerakyatan dinilai belum menunjukkan gaung yang diharapkan. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengaku masih menunggu lonjakan pengunjung karena hingga kini transaksi penjualan belum menggembirakan.

Pantauan awak media di kawasan PRSU, Rabu (8/7/2026) malam, memperlihatkan suasana relatif lengang di sejumlah titik. Arus pengunjung yang masuk tidak terlihat padat, sementara panggung utama yang menampilkan pertunjukan budaya hanya disaksikan segelintir penonton. Kondisi serupa tampak di area stan organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kabupaten/kota, hingga deretan stan UMKM. Banyak pedagang lebih banyak menunggu calon pembeli, sedangkan sebagian pengunjung hanya berkeliling tanpa melakukan transaksi.

Situasi tersebut menjadi kekhawatiran para pelaku usaha. Mereka menilai minimnya jumlah pengunjung berdampak langsung terhadap omzet, padahal persiapan mengikuti PRSU telah dilakukan jauh hari dengan biaya operasional yang tidak sedikit.

Salah seorang pelaku UMKM penjual kopi, Luza, mengaku masih bersyukur karena tetap mendapatkan pembeli. Namun, menurutnya, penjualan pada hari kerja masih jauh dari target.

"Kami jual kopi Mandailing, kopi susu, termasuk yang paling diminati kopi susu pandan dan kopi susu aren. Alhamdulillah masih ada pembeli, tapi memang tidak seramai saat pembukaan atau akhir pekan," ujarnya.

Seluruh produk yang dijual dibanderol sekitar Rp20 ribu per gelas. Menurut Luza, harga tersebut masih terjangkau bagi berbagai kalangan. Ia mengungkapkan, perbedaan jumlah pengunjung antara hari kerja dan akhir pekan sangat terasa.

"Kalau hari biasa memang sepi. Pengunjung masyarakat juga jarang-jarang," katanya.

Luza menduga salah satu penyebab rendahnya tingkat kunjungan adalah harga tiket masuk yang dinilai masih cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, masyarakat kini lebih berhitung sebelum memutuskan datang ke PRSU. Selain membeli tiket masuk, mereka juga harus menyiapkan biaya transportasi, konsumsi, hingga belanja selama berada di arena pameran.

"Kalau menurut saya, tiket masuk cukup berpengaruh. Orang jadi mikir lagi. Sudah bayar tiket, nanti masih beli makan, minum, atau belanja. Akhirnya banyak yang memilih tidak datang," ungkapnya.

Ia menilai harga tiket pada akhir pekan masih dapat dimaklumi jika dibarengi konser musik atau hiburan besar. Namun, untuk hari biasa, penyelenggara diharapkan mengevaluasi kebijakan tersebut agar lebih banyak masyarakat tertarik berkunjung.

"Kalau tiket lebih terjangkau, masyarakat punya sisa uang untuk belanja produk UMKM. Kami juga yang merasakan manfaatnya," katanya.

Selain itu, Luza berharap agenda hiburan dan kegiatan di PRSU diperbanyak sehingga masyarakat memiliki alasan untuk datang setiap hari, bukan hanya saat akhir pekan.

"Sebaiknya kegiatan ditambah lagi supaya orang tertarik datang setiap hari, bukan cuma pas weekend," ujarnya.

Bagi pelaku UMKM, tingginya jumlah pengunjung menjadi faktor utama keberhasilan mengikuti PRSU. Semakin ramai masyarakat yang datang, semakin besar peluang transaksi dan promosi produk lokal. Adapun Harga Tiket Masuk (HTM) ke PRSU tahun ini, untuk satu orang pengunjung Rp35 ribu di hari biasa, dan Rp75 ribu saat weekend (Sabtu dan Minggu). Sedangkan tahun lalu, HTM PRSU Rp10 ribu pada hari biasa, dan Rp35 ribu pada hari libur. (has)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini