SIMALUNGUN, HASTARA.ID – Viralnya video keributan usai pelaksanaan Fun Run Parapat tahun 2026 di kawasan Pantai Bebas Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, memunculkan sorotan terhadap penyelenggaraan ajang olahraga wisata tersebut.
Peristiwa itu terjadi setelah kegiatan, Minggu (5/7/2026). Video yang diunggah akun TikTok @otniel jouviel pandia memperlihatkan beberapa peserta mendatangi panitia.
Berdasarkan video yang beredar, sejumlah peserta menyampaikan protes kepada panitia karena menilai fasilitas yang diterima, termasuk jersey, medali, hingga hadiah lomba, tidak sesuai dengan informasi yang disampaikan saat pendaftaran.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Simalungun, Franky Fernandus Purba, menegaskan bahwa pihaknya tidak bertindak sebagai penyelenggara kegiatan, melainkan hanya berperan sebagai pendamping yang memberikan dukungan agar kegiatan promosi wisata tersebut dapat terlaksana.
Menurut Franky, sejak awal pihaknya hanya memfasilitasi kebutuhan yang diminta panitia, yang berasal dari Pengurus Karang Taruna Simalungun, mulai dari membantu komunikasi hingga mendukung penyelenggaraan acara. Namun, seluruh keputusan teknis, termasuk terkait hadiah dan informasi kepada peserta, tetap berada di tangan panitia.
"Awalnya mereka datang kepada kami untuk membuat kegiatan ini. Karena anggaran juga terbatas, kami membantu sebagai pendamping. Kami memfasilitasi apa yang mereka butuhkan, baik dari sisi komunikasi maupun hubungan dengan berbagai pihak. Tetapi kami bukan penyelenggara," ujarnya saat dikonfirmasi. Selasa (7/7/2026)
Ia menjelaskan, persoalan utama yang kemudian memicu kekecewaan peserta berawal dari tidak terpenuhinya dukungan sponsor, yakni Bank Sumut sesuai rencana awal.
Franky mengatakan sponsor utama yang diharapkan memberikan dukungan hadiah ternyata tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan sebagaimana yang telah diproyeksikan panitia.
"Peserta tentu berharap hadiah sesuai yang diumumkan. Tetapi ternyata sponsor tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan itu. Saya sudah menyampaikan kepada panitia agar hadiah disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Kalau memang tidak bisa, ya turunkan nominal hadiahnya," katanya.
Franky mengungkapkan, sejak sekitar sepekan sebelum pelaksanaan kegiatan dirinya telah mengingatkan panitia agar segera menyampaikan perubahan tersebut kepada seluruh peserta sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Saya sudah tekan dari seminggu sebelumnya supaya diberitahukan kepada peserta bahwa hadiahnya berubah. Jangan sampai orang mengetahui setelah acara selesai. Tetapi ternyata informasi itu tidak disampaikan," ungkapnya.
Ia menyebut, semula total hadiah yang diumumkan kepada publik mencapai sekitar Rp70 juta. Namun pada pelaksanaannya, hadiah yang tersedia hanya sekitar Rp39 juta.
"Harusnya kalau memang sponsor tidak sanggup, segera diumumkan. Jangan menunggu sampai peserta datang. Orang kan mendaftar berdasarkan informasi yang mereka terima. Kalau memang kemampuan hanya sekitar Rp39 juta, ya sampaikan dari awal," katanya.
Menurut Franky, persoalan tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila panitia menunggu kepastian dukungan sponsor sebelum mengumumkan nominal hadiah kepada masyarakat.
"Jangan mengumumkan sesuatu yang masih belum pasti. Kalau belum ada kepastian dari sponsor, seharusnya jangan langsung diumumkan ke publik," ujarnya.
Meski demikian, Franky mengatakan berdasarkan laporan sementara yang diterimanya, panitia sedang berupaya menyelesaikan kekurangan hadiah yang dipermasalahkan peserta.
"Tadi malam mereka mengirimkan laporan keuangan kepada saya. Dari laporan itu masih ada kekurangan sekitar Rp49 juta dan mereka berupaya memenuhinya. Peserta tentu tidak mau tahu bagaimana prosesnya, yang mereka lihat adalah apa yang dijanjikan kepada mereka," katanya.
Franky juga menjelaskan alasan Disbudparekraf mendampingi kegiatan tersebut. Menurutnya, Fun Run Parapat merupakan bagian dari konsep sport tourism yang bertujuan mendukung promosi kawasan wisata Danau Toba, sehingga secara substansi berkaitan dengan sektor pariwisata.
"Parapat adalah kota wisata. Kegiatan ini merupakan sport tourism, jadi memang berkaitan dengan promosi destinasi wisata. Karena itu kami mendampingi. Tetapi kembali saya tegaskan, kami tidak ikut mengelola anggaran maupun menjadi penyelenggara," tegasnya.
Ia mengaku turut kecewa atas munculnya polemik tersebut karena tujuan awal kegiatan adalah mendukung anak-anak muda melalui Karang Taruna agar mampu menghadirkan event yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Parapat.
"Terus terang kami juga kecewa. Keinginan kami hanya memfasilitasi mereka agar kegiatan berjalan baik. Kami membantu apa yang dibutuhkan, tetapi ternyata muncul persoalan seperti ini," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Simalungun, Bobpresly Saragih, mengaku pihaknya sama sekali tidak dilibatkan dalam penyelenggaraan Fun Run Parapat tahun 2026.
Menurut Bobpresly, hingga kegiatan berlangsung tidak pernah ada koordinasi ataupun permintaan pendampingan dari panitia kepada Dispora Simalungun.
"Tidak ada koordinasi dengan Dispora. Saya juga bingung karena tidak pernah ada komunikasi kepada kami. Kalau memang sejak awal berkoordinasi, tentu kami bisa memberikan masukan dalam pelaksanaan kegiatan olahraga seperti ini," ujarnya.
Ia menduga penyelenggaraan kegiatan tersebut lebih banyak berkoordinasi dengan Karang Taruna yang berada di bawah pembinaan perangkat daerah lain, yakni Dinas Sosial Kabupaten Simalungun sehingga Dispora tidak mengetahui secara rinci proses persiapan hingga pelaksanaannya.
Meski demikian, Bobpresly memastikan Dispora Simalungun tetap fokus mempersiapkan berbagai agenda olahraga daerah, termasuk menghadapi pelaksanaan ajang olahraga tingkat provinsi yang akan datang. Menurutnya, pembinaan atlet dan persiapan kontingen tetap menjadi prioritas dinas sepanjang tahun ini. (Tra)
