![]() |
| Penampakan tumpukan sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Diprediksi tidak sampai lima tahun lagi, kondisi TPA Terjun akan melebihi kapasitas. Istimewa/Hastara.id |
MEDAN, HASTARA.ID — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan tengah memvalidasi data sarana dan prasarana pengelolaan sampah di seluruh kecamatan. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat III Balai Kota Medan sejak Senin (29/9/2025) hingga Rabu (1/10/2025) ini diklaim sebagai upaya memperoleh potret utuh kondisi persampahan di lapangan.
“Hasil validasi ini akan menjadi dasar lahirnya kebijakan-kebijakan penanganan sampah di tingkat kecamatan,” ujar Kepala DLH Medan, Melvi Marlabayana di sela kegiatan.
Menurut Melvi, validasi dilakukan dengan metode coaching clinic bersama ASN yang membidangi persampahan di masing-masing kecamatan. Empat tim validator dari berbagai bidang di DLH—mulai dari Bidang Pengendalian Pencemaran hingga Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3—diturunkan untuk meneliti data teknis hingga bukti pendukung.
Data yang diverifikasi mencakup jumlah personel kebersihan (Melati, Bestari, sopir, hingga kernet), vendor pihak ketiga, serta detail kendaraan pengangkut sampah, mulai dari becak motor hingga truk tipper, armroll, compactor, dan pikap. Rute pengangkutan serta kondisi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) juga tak luput dari pengecekan.
Meski begitu, sejumlah kalangan menilai langkah ini baru sebatas “administrasi meja rapat” yang belum menyentuh persoalan mendasar: buruknya pengelolaan sampah di lapangan. Di banyak kecamatan, tumpukan sampah masih kerap menggunung, pengangkutan tidak teratur, dan fasilitas TPS minim serta tak terawat.
“Validasi data memang penting, tapi yang lebih mendesak adalah memastikan sistem yang ada benar-benar berjalan. Masyarakat ingin solusi nyata, bukan sekadar laporan yang rapi,” ujar Miduk Hutabarat, salah seorang pemerhati lingkungan di Medan saat dimintai tanggapan.
DLH Medan berharap hasil validasi ini bisa melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan efektif. Namun publik masih menunggu, apakah program ini benar-benar jadi titik balik penanganan sampah di Medan, atau hanya berhenti sebagai ritual rutin tanpa perubahan berarti. (has)
