-->

Bus Listrik Medan Laris, Tapi Masih Jadi “Hiburan Akhir Pekan”

Sebarkan:

 

Penampakan bus listrik di Kota Medan saat sedang berhenti untuk mengangkut penumpang pada salah satu halte di Jalan Balai Kota, Medan beberapa waktu lalu. Istimewa/Hastara.id 

MEDAN, HASTARA.ID — Transformasi transportasi publik di Kota Medan kian menunjukkan hasil positif. Kehadiran bus listrik sebagai moda transportasi massal semakin diminati masyarakat, tercermin dari tingginya angka pengguna sepanjang 2025.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Suriono, mengungkapkan bahwa selama 2025 layanan bus listrik mencatat total 2.739.601 penumpang. Angka tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap transportasi publik yang dinilai lebih aman, nyaman, dan efisien.

“Angka ini menjadi bukti bahwa masyarakat Medan mulai beralih ke moda transportasi massal yang menawarkan kenyamanan dan efisiensi,” ujar Suriono, Jumat (9/1/2025).

Ia menyebutkan, rata-rata pengguna bus listrik setiap bulan mencapai lebih dari 200 ribu penumpang. Puncak tertinggi terjadi pada Oktober 2025 dengan jumlah penumpang mencapai 279.732 orang.

Menurut Suriono, capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan integrasi transportasi publik di Kota Medan yang berjalan sesuai arah perencanaan. Pihaknya berharap tren positif ini dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

“Ini bukan sekadar angka, melainkan wujud kepercayaan masyarakat. Kehadiran bus listrik bukan hanya membantu mengurangi kemacetan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menekan emisi karbon di Kota Medan,” katanya.

Saat ini, Pemerintah Kota Medan mengoperasikan 60 unit bus listrik, dengan rincian 55 unit beroperasi dan 5 unit sebagai cadangan. Armada tersebut melayani lima koridor utama, didukung oleh 227 halte yang tersebar di berbagai wilayah Kota Medan.

Dengan capaian tersebut, bus listrik diharapkan terus menjadi tulang punggung transportasi massal sekaligus mendukung target Medan sebagai kota ramah lingkungan.

Aktivis transportasi, Ki Darmaningtyas mengatakan meskipun diminati, sebagian masyarakat masih menggunakan bus listrik sebagai sarana "hiburan akhir pekan" daripada moda transportasi utama untuk bekerja, yang menjadi tantangan dalam mengurangi volume kendaraan di hari kerja. 

"Karenanya perlu penambahan unit armada agar waktu tunggu tidak terlalu lama (mengurangi antrean panjang) sehingga masyarakat merasa lebih praktis naik bus daripada membawa mobil sendiri," ujarnya. 

Ia menekankan bahwa kehadiran bus listrik bukan sekadar mengganti mesin, tetapi bagian dari strategi "transportasi hijau": Di satu sisi efektivitas dalam mengurangi kemacetan sangat bergantung pada ketepatan waktu (headway) dan kemudahan akses menuju halte.

"Karenanya integrasi bus listrik dengan moda lain seperti kereta bandara, terminal, dan pelabuhan untuk benar-benar menarik pengguna kendaraan pribadi berpindah. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kualitas pelayanan (seperti kebersihan dan kenyamanan AC) dengan minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum," pungkasnya. (has)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini