![]() |
| Suasana peringatan Isra Mikraj di Desa Sekumur lewat Festival Anak Saleh yang digagas Relawan Kemanusiaan Nusantara (Rawantara) selama dua hari pada 17–18 Januari 2026. Istimewa/Hastara.id |
Berlangsung di Sekolah Rakyat Desa Sekumur, kegiatan ini diikuti puluhan anak dengan berbagai perlombaan bernuansa Islami, mulai dari lomba adzan, tilawah Al-Qur'an, salawat grup hingga hafalan surat-surat pendek. Suasana riuh tepuk tangan dan lantunan ayat suci mewarnai setiap sesi, menghadirkan semangat baru bagi peserta yang sebelumnya terdampak bencana.
Perwakilan Rawantara, Sobran Hakim, mengatakan festival ini bukan sekadar perayaan hari besar Islam, melainkan bagian dari upaya membangun kembali optimisme anak-anak Desa Sekumur.
“Sekolah Rakyat kami dirikan untuk mencerdaskan anak-anak Desa Sekumur. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menghadirkan kebahagiaan dan kenangan yang tak terlupakan bagi mereka,” ujar Sobran, Kamis (17/1/2026).
Dukungan juga datang dari Founder Pandawa Kayak, Adi Pandawa, yang menilai keberadaan Sekolah Rakyat menjadi simbol harapan bagi generasi muda pascabencana.
“Anak-anak ini adalah masa depan desa. Mereka perlu ruang untuk belajar, bermain, dan tumbuh dengan optimisme,” katanya.
![]() |
| Seorang relawan, Aminur Rasyid (lobe putih) menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba Festival Anak Saleh di Desa Sekumur. Istimewa/Hastara.id |
Festival ditutup dengan tausiyah Ustaz Rojali yang mengajak warga menjadikan Isra Mikraj sebagai momentum memperkuat keimanan, khususnya menjaga salat lima waktu dan memperbanyak membaca Al-Qur'an.
“Dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah, insyaAllah Desa Sekumur akan segera pulih sepenuhnya dari dampak bencana,” tuturnya.
Pada ajang perlombaan, Yusuf keluar sebagai juara pertama lomba adzan dengan nilai 499, disusul Firqon (498). Lomba tilawah dimenangi Bila (499), sementara sholawat grup terbaik diraih Kelompok Salsabila dengan nilai 513. Untuk lomba hafalan surat pendek, kategori putra dimenangkan Insan (469), dan kategori putri diraih Tazkya (495).
Tazkya mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut dan berterima kasih kepada para relawan.
“Kami senang bisa belajar dan bermain bersama kakak-kakak relawan. Semoga kegiatan seperti ini sering diadakan supaya kami semakin semangat belajar,” ujarnya.
Selain perlombaan, peringatan Isra Mikraj juga diisi dengan sholawat bersama relawan dan warga, serta pembacaan puisi berjudul “Anak-anak yang Selamat Tapi Kehilangan” karya Agum Aditya, yang dibacakan oleh anak-anak penyintas banjir. Momen ini menjadi penutup yang menyentuh, mengingatkan hadirin akan pentingnya solidaritas dan kepedulian bagi masa depan generasi desa. (rel)

