![]() |
| Cahaya obor tetap menyala di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa malam (17/2/2026), menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Istimewa/Hastara.id |
Ratusan warga yang sebagian masih bertahan di tenda-tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap menggelar tradisi tahunan pawai obor menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Langkah-langkah kecil penuh semangat menyusuri jalan desa yang belum sepenuhnya pulih. Di antara tenda biru dan oranye serta puing-puing kayu sisa banjir, api-api kecil itu menyala hangat, menerangi wajah-wajah yang beberapa hari lalu dipenuhi kecemasan.
Tradisi tersebut digagas oleh seorang pemuda desa, Mat Isya. Di tengah kondisi kampung yang porak-poranda, ia mengajak para relawan dan pemuda untuk tetap menjaga semangat kebersamaan.
“Awalnya saya ngobrol santai dengan beberapa relawan untuk berinisiatif melaksanakan pawai obor. Ternyata mereka mengamini usulan itu, karena setiap tahun kami memang selalu mengadakan pawai obor menyambut Ramadan,” ujarnya.
Persiapan dilakukan secara sederhana. Sehari sebelumnya, para pemuda bersama relawan mencari bambu, merakit obor, dan menyiapkannya bersama-sama. Tanpa panggung megah, tanpa perayaan besar hanya cahaya api dan semangat gotong royong yang menyatukan mereka.
Desa Sekumur saat ini masih dalam masa pemulihan. Sejumlah rumah rusak, sebagian bahkan rata dengan tanah. Namun malam itu, suasana berubah syahdu. Anak-anak, orang tua, hingga relawan berjalan beriringan, melantunkan takbir dan salawat.
Bagi warga Sekumur, Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi penguat jiwa—momentum untuk bangkit dan menata ulang harapan yang sempat hanyut bersama derasnya banjir.
Cahaya obor yang berbaris sepanjang jalan desa menjadi simbol keteguhan hati. Di antara puing dan tenda pengungsian, api-api kecil itu tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menyalakan keyakinan bahwa setelah ujian, selalu ada harapan yang kembali tumbuh.
Di Sekumur, Ramadan disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketabahan. Dan dari ketabahan itulah, harapan kembali dinyalakan. (rel)
