![]() |
| Kondisi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pematangsiantar dipadati antrian pengendara. (Putra Purba/ HASTARA) |
Di antara deru mesin dan antrean kendaraan, satu angka menjadi pusat perhatian: Pertamax kini dijual Rp16.650 per liter.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi ini langsung terasa mengejutkan bagi warga. Selisih Rp4.050 dari harga sebelumnya Rp12.600 per liter bukan angka kecil bagi sebagian masyarakat yang menggantungkan mobilitas harian pada kendaraan pribadi.
Rinaldi Siboro, seorang pengendara sepeda motor, mengaku terkejut saat mengetahui perubahan harga tersebut. Ia baru menyadarinya ketika hendak mengisi bahan bakar di SPBU.
“Mahal ya. Harapannya bisa turun lagi atau ada subsidi,” ujarnya sambil menggeleng pelan.
Baginya, kenaikan ini cukup memberatkan, terlebih ia tidak mendapatkan informasi sebelumnya.
“Kalau saya bilang sih keberatan, kaget juga. Baru pagi ini diberi tahu sama pegawai SPBU,” katanya.
Reaksi serupa datang dari Ilham, warga Kecamatan Siantar Martoba. Ia bahkan sempat mengira harga Pertamax masih berada di angka lama. Ketidaktahuan itu membuatnya semakin terkejut saat harus membayar lebih mahal dari biasanya.
“Saya tidak tahu kalau sudah naik. Kirain masih harga lama. Baru tahu sekarang pas isi bensin. Repot juga buat masyarakat,” ucapnya.
Di sisi lain, petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa lonjakan pertanyaan dari pelanggan sudah terjadi sejak pagi. Banyak di antara mereka yang mempertanyakan alasan kenaikan harga.
Namun, sebagai operator di lapangan, pihak SPBU hanya menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan.
“Sejak pagi memang banyak pelanggan yang bertanya dan mengeluhkan kenaikan harga Pertamax. Namun kami hanya mengikuti harga resmi yang ditetapkan Pertamina. Informasi perubahan harga juga langsung kami pasang agar diketahui masyarakat,” ujarnya.
Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada Pertamax. Produk BBM non-subsidi lainnya juga mengalami penyesuaian, meski tidak semuanya berubah secara signifikan. Namun bagi masyarakat, Pertamax tetap menjadi sorotan utama karena penggunaannya yang cukup luas, khususnya di kalangan pengendara roda dua.
Di tengah keluhan masyarakat, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara memberikan penjelasan terkait kebijakan tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan hal yang lumrah dan mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan.
“Penyesuaian harga BBM non subsidi dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian. Sementara itu, harga BBM subsidi yaitu Pertalite dan Biosolar tetap sesuai ketetapan Pemerintah,” jelasnya saat dikonfirmasi. Kamis (11/6/2026).
Ia juga memastikan bahwa kenaikan harga ini tidak akan mengganggu ketersediaan BBM di wilayah Sumatera Utara. Menurutnya, distribusi dan pasokan energi tetap berjalan normal.
“Kami memastikan pasokan seluruh produk BBM tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina maupun aplikasi MyPertamina,” tambah Fahrougi.
Di tengah perubahan harga tersebut, pemerintah melalui Pertamina tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar berada di angka Rp6.800 per liter. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok pengguna BBM bersubsidi.
Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan bahwa informasi yang belum merata menjadi salah satu persoalan. Banyak warga yang baru mengetahui kenaikan harga saat berada di SPBU. Kondisi ini menimbulkan rasa kaget sekaligus keluhan spontan dari masyarakat.
Di tengah dinamika tersebut, Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Pasokan BBM di Sumatera Utara disebut dalam kondisi aman dan distribusi berjalan normal.
Namun bagi warga seperti Rinaldi dan Ilham, persoalannya bukan sekadar ketersediaan, melainkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan harga baru. Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, kenaikan harga bahan bakar menjadi satu lagi beban yang harus mereka pertimbangkan dalam aktivitas sehari-hari. (Tra)
