Program Sejagat hadir sebagai ekosistem agribisnis terintegrasi yang tidak hanya menyediakan akses permodalan bagi petani, tetapi juga menjamin pasar hasil panen, perlindungan risiko usaha, hingga jaminan keselamatan kerja.
Wakil Bupati Taput, Deni Parlindungan Lumbantoruan, menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan visi Pemkab Taput dalam mencetak sumber daya manusia unggul di sektor pertanian sekaligus mendorong lahirnya petani-petani muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pasar.
“Kami ingin petani milenial tidak hanya sekadar menanam, tetapi menjadi pebisnis pertanian yang memiliki perencanaan matang dan mampu membaca peluang usaha. Potensi pasar sangat besar, dan negara telah membuka akses melalui OJK dan perbankan,” ujar Deni saat memberikan arahan kepada peserta sosialisasi.
Menurutnya, melalui skema Sejagat, petani akan mendapatkan dukungan menyeluruh mulai dari pembiayaan perbankan, kepastian pasar melalui Perum Bulog sebagai off-taker, perlindungan risiko usaha dari PT Jasindo, hingga jaminan keselamatan kerja melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Deni menilai transformasi pola pikir petani menjadi pelaku agribisnis modern merupakan kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemkab Taput menargetkan pembukaan hingga 1.000 hektare lahan pertanian baru bersubsidi pada tahun ini guna meningkatkan produksi komoditas pertanian, khususnya jagung.
“Generasi muda Tapanuli Utara harus berani mengambil peluang ini. Manfaatkan akses keuangan yang sehat dan jadilah motor penggerak ketahanan pangan daerah,” tegasnya.
Deputi Direktur OJK Provinsi Sumatera Utara, Yovvi Sukandar, yang membacakan sambutan Kepala OJK Sumut, menyampaikan apresiasi atas komitmen dan langkah cepat yang dilakukan Pemkab Taput dalam memperluas akses pembiayaan bagi sektor pertanian.
Menurut Yovvi, OJK berkomitmen mendukung penguatan sektor pangan melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta petani.
Ia mengungkapkan, tren pembiayaan kredit sektor jagung di Sumatera Utara terus menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga April 2026, sekitar 99,79 persen pembiayaan sektor tersebut telah tersalurkan kepada UMKM dan petani.
“Kerjasama ini membuka akses yang lebih luas bagi petani jagung di Tapanuli Utara untuk memperoleh pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan. Kami juga sengaja mendorong keterlibatan petani milenial karena mereka lebih adaptif terhadap teknologi agribisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian,” kata Yovvi.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemkab Taput dan OJK berharap sektor pertanian jagung semakin berkembang, mampu meningkatkan kesejahteraan petani, serta menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045. (os)
