-->

Literasi Telemedicine Hingga Kesehatan Mental Wartawan jadi Sorotan Utama Kuliah Umum STIK-P Medan

Sebarkan:

 

Para mahasiswa STIK-P Medan dan narasumber diabadikan bersama usai kuliah umum komunikasi kesehatan bertajuk Health Communications Day di Kampus STIK-P Medan, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Kamis (1/10/2026). Istimewa/Hastara.id 
MEDAN, HASTARA.ID — Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Medan menggelar kuliah umum komunikasi kesehatan bertajuk Health Communications Day.

Kegiatan di Kampus STIK-P Medan, Jalan Sisingamangaraja, Kamis (1/10), ini menyoroti dua persoalan, derasnya informasi kesehatan digital yang belum tentu benar, dan tekanan mental yang menghantui wartawam sebagai penyampai informasi.

Dua narasumber dihadirkan. Dr Nadra Ideyani Vita, MSi, CIQaR dari Universitas Medan Area (UMA) membawakan materi "Literasi Telemedicine untuk Perilaku Sehat". Lia Anggia Nasution, SSos, MIKom (STIK-P) membahas kesehatan mental wartawan. 

Nadra menyoroti perubahan perilaku masyarakat di era digital, khususnya mahasiswa. Lewat perangkat digital, mereka kini bisa mencari gejala penyakit, membandingkan saran kesehatan, memilih layanan, hingga mengambil keputusan kesehatan. Namun kemudahan itu tidak otomatis melahirkan keputusan yang tepat. 

"Akses lebih cepat keputusan selalu lebih tepat," demikian salah satu pesan utama dalam materi Nadra.

Ia menjelaskan, telemedicine adalah pelayanan kesehatan jarak jauh yang memakai teknologi komunikasi untuk pertukaran informasi klinis. Bentuknya bisa telekonsultasi dokter dan pasien, telemonitoring, tele-edukasi, hingga rujukan digital. 

"Bukan pengganti semua layanan tatap muka, pilih sesuai kebutuhan dan tingkat kegawatan," ujar Nadra dalam paparannya. 

Mahasiswa disebut kelompok penting untuk diedukasi, sebab kemampuan memakai teknologi tidak selalu diikuti kemampuan menilai informasi kesehatan. "Digital native belum tentu melek kesehatan," demikian salah satu poin yang ditekankan.

Literasi telemedicine ditempatkan dalam keterkaitan health literacy, digital literacy, dan eHealth literacy. Kemampuan itu mencakup menemukan, memahami, menilai, dan memakai informasi maupun layanan kesehatan digital secara aman.

Nadra juga menekankan pentingnya komunikasi dalam layanan telemedicine. Pasien harus mampu menyampaikan keluhan secara runtut, mengonfirmasi pemahaman, serta menanyakan rencana tindak lanjut dan tanda bahaya. 

"Kualitas layanan ditentukan oleh kualitas percakapan," demikian pesan dalam materinya.

Dalam memilih layanan, mahasiswa diminta memastikan identitas dokter dan izin praktik jelas, platform punya kebijakan privasi, biaya, resep, dan rujukan transparan, serta tersedia kanal bantuan dan rekam konsultasi. Untuk kondisi darurat seperti nyeri dada, sesak berat, dan penurunan kesadaran, telemedicine tidak cukup. Pertolongan langsung harus dicari.

Nadra juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah percaya informasi kesehatan di internet. Ada lima pertanyaan yang perlu diajukan: siapa sumbernya, apa buktinya, kapan diterbitkan, untuk tujuan apa, dan cocok untuk siapa. 

"Sebelum percaya, berhenti sejenak. Periksa. Putuskan," menjadi pesan penutup materinya.

Dalam kegiatan ini juga diadakan cek kesehatan gratis bagi mahasiswa dan civitas akademika STIK-P Medan. Istimewa/Hastara.id 

Kesehatan Mental Wartawan 

Pada sesi berikutnya, Lia Anggia mengangkat sisi yang kerap luput: kesehatan mental wartawam. Dalam materinya, wartawan disebut bekerja di profesi dengan tingkat tekanan emosional, psikologis, dan sosial yang tinggi.

Sumber tekanannya berlapis. Ada deadline ketat, iklim kerja dan ritme liputan yang tidak menentu. Ada trauma langsung saat meliput bencana alam, konflik, kekerasan, atau krisis kemanusiaan, serta trauma sekunder akibat paparan cerita mengerikan dari korban dan saksi mata, atau foto dan video kekerasan berulang kali saat proses editing.

Wartawan juga rentan terhadap doxing, pelecehan daring, dan komentar negatif netizen. Di luar itu, ada ketidakpastian kerja berupa persoalan kesejahteraan upah hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), serta liputan isu kompleks yang rentan intimidasi dan ancaman.

Jika berlarut, tekanan itu berujung burnout, yakni kelelahan fisik, mental, dan emosional. Gejalanya mencakup kelelahan kronis, insomnia, kecemasan berlebih, mati rasa, sulit fokus, pemikiran sinis, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga ketergantungan bahan adiktif.

Anggia memaparkan sejumlah langkah menjaga diri: membangun peer support dengan rekan sejawat yang aman diajak berbagi, menetapkan batas waktu kerja yang jelas termasuk detoks digital usai liputan, menulis jurnal setelah liputan berat, serta memakai teknik napas box breathing saat kewalahan di lapangan. 

Ia menekankan peran perusahaan media: menyusun SOP liputan yang rentan dan sensitif, menyediakan layanan bantuan psikologis, melindungi wartawan dari serangan daring, dan mengikis stigma bahwa jurnalis tangguh adalah wartawan yang tidak mengeluh.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diajak melihat komunikasi kesehatan dari dua sisi, bagaimana masyarakat menghadapi informasi dan layanan kesehatan digital, dan bagaimana kesehatan mental menjadi perhatian bagi pekerja komunikasi, khususnya wartawan. Dalam kegiatan ini juga diadakan cek kesehatan gratis bagi mahasiswa dan civitas akademika. 

Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan. Cek kesehatan gratis menyasar mahasiswa baru maupun lama, dengan tiga jenis layanan pemeriksaan metabolisme, pemeriksaan gigi, dan pemeriksaan mata.

Kegiatan ini disambut baik mahasiswa. Ananda Hikmatul Khaira J, mahasiswa STIK-P Medan, menilai kegiatan tersebut membuka ruang konsultasi langsung dengan dokter, khususnya soal kesehatan mata.

"Seru, sangat banyak manfaatnya, saya tadi banyak tanya juga ke dokternya, khususnya soal kesehatan mata," ujar perempuan berkacamata itu. (rel)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini