-->

Siaga Api Sejak Dini, Disdamkarmat Pematangsiantar Bekali Anak-anak dengan Edukasi Pencegahan Kebakaran

Sebarkan:
Kegiatan edukasi tentang pemadam kebakaran ini sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak sejak usia dini oleh Disdamkarmat Pematangsiantar. Putra P / Hastara.id

PEMATANGSIANTAR, HASTARA.ID - Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan  (Disdamkarmat), secara rutin menyelenggarakan kegiatan edukasi pencegahan kebakaran bagi anak-anak usia dini di tingkat PAUD, TK, dan SD. Program ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan bahaya kebakaran dan cara-cara pencegahannya sejak usia dini.


Kepala Seksi Sekolah Dasar (Kasi SD) Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Rado Damanik, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin dinas terkait sebagai upaya pencegahan kebakaran bagi masyarakat, khususnya anak-anak. 


"Anak-anak diajarkan tentang cara-cara mencegah kebakaran, seperti tidak bermain api, tidak menyentuh peralatan listrik yang rusak, dan melaporkan kebocoran gas kepada orang dewasa," ujarnya.


Rado Damanik juga menekankan pentingnya peran serta keluarga dalam menumbuhkan empati dan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran pada anak-anak. 


"Pengawasan juga semestinya berasal dari keluarga, di kedua orang tuanya, dengan menumbuhkan empati dan kehati-hatian pada anak. Walaupun, untuk anak di usia pendidikan PAUD maupun TK, orang tua punya usaha ekstra, sebab di usia itu, anak masih memiliki keingintahuan yang lebih akan hal baru," katanya.


Ia menambahkan kegiatan edukasi pencegahan kebakaran ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi bahaya kebakaran dan menyelamatkan nyawa diri sendiri maupun orang lain.


Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Pematangsiantar, Robert Samosir, menjelaskan bahwa edukasi ini juga bertujuan untuk membantu anak-anak agar tidak sembarangan bermain api, mengurangi rasa takut terhadap api, dan memperkenalkan sebagian kecil peralatan pemadaman kebakaran. 


"Anak-anak diajarkan tentang penyebab umum kebakaran, seperti bermain api, korsleting listrik, dan kebocoran gas," tuturnya.


Robert menuturkan bahwa pendekatan yang digunakan untuk kelompok usia yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang signifikan. 


"Memberi penjelasan nama dan fungsi serta bagaimana menggunakan alat-alat pemadam api ringan (APAR) dan selang pemadam kebakaran yang diperagakan personil damkar, dan selanjutnya memberi kesempatan kepada anak-anak memegang alat yang didampingi personil," ujarnya.


Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kegiatan disiram di akhir edukasi pemadam kebakaran biasanya dilakukan sebagai simulasi atau latihan bagi anak-anak. 


"Anak-anak mendapatkan pengalaman langsung tentang bagaimana rasanya berada dalam situasi kebakaran dan bagaimana cara menyelamatkan diri dengan pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan lebih mudah diingat oleh anak-anak, sehingga mereka akan lebih ingat tentang pelajaran yang telah mereka dapatkan," tegasnya.


Terkait evaluasi, Robert mengakui bahwa pihaknya belum memiliki indikator atau metode evaluasi yang sesuai untuk menilai pemahaman dan perubahan perilaku anak-anak setelah mengikuti edukasi.


 "Sejauh ini, kami belum melakukan penelitian terkait hasil tersebut, namun dapat kami sampaikan semakin banyak anak-anak yang suka terhadap pemadam kebakaran," timpalnya.


Meski demikian, dirinya membenarkan perlu adanya kegiatan lanjutan, pengulangan, atau pengayaan materi secara berkala.


"Diperlukan karena waktu pelaksanaan edukasi masih terbatas," katanya.


 Ia juga menekankan pentingnya peran serta orang tua dan masyarakat dalam mendukung edukasi ini di rumah bagi anak-anak didik.


"Pemerintah kita melalui Pemadam juga membuat program edukasi dan simulasi kepada masyarakat, baik generasi muda maupun orang tua, begitu pula edukasi itu dipertahankan untuk pertahanan diri sejak usia dini," pungkas Robert. (put)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini