![]() |
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menjawab wartawan di balai kota, Jumat (11/7/2025). Hasby/Hastara.id |
MEDAN, HASTARA.ID — Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menanggapi temuan anggota DPRD Sumatera Utara dari Dapil Kota Medan yang melakukan inspeksi ke sejumlah proyek pembangunan yang belum rampung, seperti Islamic Center dan Stadion Teladan.
Menurut Rico, pemerintah kota berkomitmen mendorong percepatan penyelesaian proyek-proyek bernilai 'anggaran jumbo' tersebut karena menyangkut kebutuhan publik.
“Namanya aset yang sudah dibangun ini harus sesegera mungkin diselesaikan, karena masyarakat menanti progres pembangunan tersebut,” ujar Rico menjawab wartawan, Jumat (11/7). “Poinnya adalah, apa yang sudah dicanangkan harus bisa selesai. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa kita pergunakan," sambung dia.
Menjawab soal evaluasi terhadap keterlambatan pengerjaan, wali kota menyebut pihaknya akan meninjau kembali aspek teknis dan kontraktual dari proyek-proyek terkait.
“Kami akan melihat kembali rancangan, jangka waktu kerja, dan hal-hal lainnya. Kalau memang kontraknya tidak berjalan sesuai progres, tentu akan kami tegur (pihak kontraktor). Harus ada langkah seperti itu, kalau tidak bisa terbengkalai terus,” tegas politisi muda Partai NasDem ini.
Sebagaimana diketahui, revitalisasi Stadion Teladan Medan dan Islamic Medan Center menuai sorotan tajam dari DPRD Sumatera Utara. Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pada Senin (7/7/2025), para legislator menemukan kejanggalan dalam penggunaan anggaran, khususnya pengadaan scoring board senilai lebih dari Rp11,7 miliar.
Wakil Ketua DPRD Sumut, Ihwan Ritonga, mengungkapkan bahwa dana revitalisasi Stadion Teladan yang bersumber dari APBD Medan 2024 sebesar Rp70 miliar seharusnya sudah digunakan sepenuhnya. Namun, berdasarkan laporan yang diterima, scoring board disebut telah rampung padahal faktanya belum terpasang di stadion.
“Kok bisa beda datanya? Ini sudah tahun 2025, seharusnya sudah selesai,” katanya dengan nada heran.
Hal senada disampaikan Anggota DPRD Sumut lainnya, Landen Marbun dan Salman Alfarisi. Mereka mempertanyakan belum terealisasinya pengadaan tersebut, padahal anggaran berasal dari tahun sebelumnya.
“Ini rawan jadi temuan aparat penegak hukum (APH). Barang elektronik tidak boleh terlalu lama disimpan, bisa rusak,” tegas Landen.
Proyek pembangunan Medan Islamic Center juga menjadi perhatian serius. Meski bangunan utama masjid dengan desain tanjak khas Melayu tampak megah dan hampir rampung, akses menuju lokasi masih memprihatinkan.
Dalam kunjungan ke lokasi para legislator melihat langsung kondisi jalan yang berlumpur, licin, dan sulit dilalui saat musim hujan. Gedung dan area sekitar pun belum sepenuhnya selesai.
“Kemarin sempat dipakai untuk Salat Jumat, tapi ditutup lagi. Kami mendorong agar pembangunannya dipercepat supaya bisa dinikmati masyarakat tahun 2026,” ujar Ihwan.
Ia mengingatkan bahwa proyek ini merupakan impian lama warga Medan, bahkan sejak dirinya dan Landen Marbun masih bertugas di DPRD Kota Medan.
“Kalau Pemko Medan ingin dukungan APBD Sumut, kami siap bicara dengan pak gubernur,” ucap dia.
Diketahui, Medan Islamic Center dibangun di atas lahan seluas 22 hektar dengan anggaran mencapai Rp 393,27 miliar, dan terus ditambah lewat APBD 2025. Sebagaimana diketahui kedua mega proyek yang nasibnya masih 'terkatung-katung' tersebut, dibangun sejak era Bobby Nasution menjabat Wali Kota Medan. (has)