-->

Atasi Kemacetan, Pemko Medan Utamakan Solusi Murah Sebelum Bangun Fly Over

Sebarkan:

 

Penampakan Underpass HM Yamin di Jalan Jawa sudah beroperasi sejak 2024. Infrastruktur tersebut bertujuan untuk mengurai kemacetan pada kawasan itu. 

MEDAN, HASTARA.ID — Pemerintah Kota Medan terus berupaya mengurai kemacetan yang semakin parah di sejumlah titik. Salah satu solusi jangka panjang yang disiapkan adalah pembangunan infrastruktur jalan seperti fly over dan underpass. Namun, proyek ini membutuhkan anggaran besar hingga Rp200 miliar per titik dan sebagian besar hanya bisa direalisasikan dengan bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Setdako Medan, Benny Iskandar, menjelaskan dari delapan titik yang diidentifikasi membutuhkan fly over atau underpass, baru dua yang berhasil dibangun. Kedua titik itu berada di Jalan Gatot Subroto simpang Jalan Asrama dan Jalan Gagak Hitam/Ringroad. Satu titik lain di Jalan Jawa simpang Jalan Gaharu dan Jalan HM Yamin saat ini sedang dalam proses.

"Pembangunan di Jalan Gatot Subroto menggunakan dana APBN, sedangkan di Jalan Jawa memakai APBD karena Wali Kota Bobby Nasution saat itu menilai perlu percepatan pembangunan," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (2/8/2025).

Menurut Benny, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029, pembangunan infrastruktur ini hanya memungkinkan untuk satu hingga dua titik tambahan. Itu pun sangat bergantung pada kondisi keuangan daerah.

"Kalau seluruhnya mengandalkan APBD, jelas tidak cukup. Dalam pembahasan di pansus, kami sampaikan maksimal dua titik saja yang bisa dibangun dalam lima tahun ke depan," katanya.

Benny menjelaskan, dibandingkan fly over, pemerintah pusat lebih menyukai membangun underpass. Hal ini disebabkan karena fly over memerlukan pembebasan lahan lebih luas di sisi kiri dan kanan jalan, yang kerap menimbulkan masalah sosial. Selain itu, area bawah fly over sering menjadi kumuh karena dimanfaatkan untuk aktivitas informal.

"Underpass lebih efisien dan estetik. Tapi tetap saja biayanya besar," imbuhnya.

Solusi Alternatif 

Karena keterbatasan anggaran, Pemko Medan lebih dulu memprioritaskan lima solusi alternatif dengan biaya lebih murah untuk mengatasi kemacetan. Kelima langkah tersebut sudah diterapkan dan menunjukkan hasil positif di sejumlah lokasi.

1. Penambahan Lampu Lalu Lintas

Pemasangan lampu lalu lintas baru dilakukan di titik-titik rawan kemacetan untuk mengatur arus kendaraan lebih tertib.

2. Penutupan Persimpangan (Crossing)

Penutupan jalur crossing di sejumlah simpang terbukti mengurai kemacetan, seperti di Jalan Karya – Amir Hamzah, AH Nasution – Karya Wisata, dan Jalan Bandar Selamat menuju tol.

3. Pembuatan U-Turn Terarah

Median jalan dibuka secara berkala setiap dua kilometer untuk tempat putar balik kendaraan. Skema ini digunakan di Jalan Sisingamangaraja, Karya Wisata, dan Ringroad/Gagak Hitam.

4. Sistem Kanalisasi Jalan

Kendaraan yang akan membelok diarahkan melalui jalur khusus agar tidak mengganggu kendaraan yang melaju lurus. Contohnya di Jalan Jamin Ginting menuju Dr Mansyur dan Kapten Muslim.

5. Pembuatan Bundaran (Roundabout)

Bundaran seperti di simpang enam Semarang dan Bundaran HI Jakarta menjadi inspirasi. Medan juga sedang mengkaji pembangunan bundaran di Simpang Glugur Jalan KL Yos Sudarso dan Simpang Juanda.

“Kalau kelima langkah ini tidak lagi efektif mengatasi kemacetan, barulah fly over atau underpass menjadi solusi terakhir,” tegas Benny.

Dengan perencanaan bertahap dan fokus pada efisiensi anggaran, Pemko Medan berharap kemacetan bisa ditangani tanpa harus selalu mengandalkan infrastruktur besar yang membutuhkan dana ratusan miliar rupiah. Pemko juga terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat agar pembangunan bisa berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. (has)


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini