-->

Di Tengah Tantangan Zaman, Pengurus DPC GMNI Pematangsiantar Periode 2026–2028 Meneguhkan Jalan Perjuangan Bersama Rakyat

Sebarkan:

 

Foto bersama puluhan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), alumni, organisasi kepemudaan, serta sejumlah unsur pemerintah berkumpul menyaksikan pelantikan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Pematangsiantar periode 2026–2028. (Putra Purba / Hastara)


PEMATANGSIANTAR, HASTARA.ID – Suasana Ruang Serbaguna Pemerintah Kota Pematangsiantar, Kamis (2/7/2026), dipenuhi semangat kebersamaan. Di ruangan itu, puluhan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), alumni, organisasi kepemudaan, serta sejumlah unsur pemerintah berkumpul menyaksikan pelantikan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Pematangsiantar periode 2026–2028.


Bagi sebagian orang, pelantikan organisasi mahasiswa mungkin sekadar agenda pergantian kepengurusan. Namun, di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari tingginya angka pengangguran usia muda, ketimpangan ekonomi, hingga melemahnya ruang kritis mahasiswa, momentum tersebut dimaknai lebih dari sekadar seremoni.


Mengusung tema “Meneguhkan Ideologi, Mengonsolidasikan Langkah, Membangun Gerakan Kerakyatan Demi GMNI yang Berdaya Juang dan Revolusioner”, pelantikan itu menjadi titik tolak bagi GMNI Pematangsiantar untuk kembali menegaskan posisinya sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan yang berpihak kepada rakyat.

Ketua Panitia Pelaksana, Juan Simanjuntak, mengatakan pelantikan ini merupakan momentum konsolidasi untuk memperkuat tekad dan komitmen kader dalam menjalankan cita-cita perjuangan organisasi.


“Pelantikan ini merupakan titik awal bagi kepengurusan baru untuk meneguhkan kembali nilai-nilai marhaenisme, memperkuat solidaritas kader, dan menghadirkan gerakan mahasiswa yang responsif terhadap persoalan rakyat. Kami berharap kepengurusan yang baru dapat menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab dan semangat pengabdian,” ujarnya.


Pernyataan tersebut seakan menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, organisasi mahasiswa dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan. Tidak sedikit organisasi kemahasiswaan yang dinilai kehilangan daya kritis dan terjebak dalam aktivitas seremonial semata.


Ketua DPC GMNI Pematangsiantar periode 2026–2028, Kennedy Nicho Gurning, menegaskan bahwa organisasinya tidak boleh kehilangan identitas ideologis sebagai organisasi kader, organisasi perjuangan, dan organisasi rakyat.


Menurutnya, penguatan ideologi marhaenisme menjadi fondasi penting untuk membangun gerakan yang progresif dan revolusioner. Karena itu, konsolidasi hingga tingkat basis kader, penguatan budaya intelektual, dan keberpihakan terhadap kaum marhaen menjadi agenda yang harus terus dijalankan.


“GMNI Pematangsiantar harus menjadi rumah perjuangan bagi setiap kader untuk bertumbuh secara ideologis, intelektual, dan organisatoris. Kita tidak boleh menjadi organisasi yang hanya hadir dalam ruang-ruang seremonial, tetapi harus mampu menjadi pelopor perubahan sosial yang berdiri bersama rakyat dan memperjuangkan kepentingan mereka,” tegasnya.


Bagi GMNI, marhaenisme bukan sekadar konsep yang diwariskan Bung Karno, melainkan cara pandang untuk membaca realitas masyarakat. Kaum marhaen dipahami sebagai kelompok masyarakat kecil yang masih bergulat dengan berbagai persoalan ekonomi dan sosial. 


Dalam konteks Pematangsiantar dan sekitarnya, Kennedy mengatakan kelompok tersebut dapat ditemukan di berbagai lapisan, mulai dari pedagang kecil, petani, pekerja informal, hingga generasi muda yang sedang mencari peluang pekerjaan.


Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar, menilai kompleksitas tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini menuntut organisasi mahasiswa untuk memperkuat kaderisasi dan memperdalam pemahaman ideologi.


“GMNI harus tetap menjadi organisasi kader yang berwatak pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang. Kader GMNI harus memiliki keberanian berpikir kritis, kemampuan membaca realitas sosial, dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat kecil. Jangan pernah meninggalkan rakyat, karena di situlah ruh perjuangan GMNI,” katanya.


Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa peran mahasiswa tidak berhenti pada diskusi di ruang kelas atau aktivitas internal organisasi. Mahasiswa dituntut hadir sebagai agen perubahan yang mampu menawarkan gagasan, mengawal kebijakan publik, dan menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat.


Pelantikan DPC GMNI Pematangsiantar periode 2026–2028 pun menjadi awal dari harapan baru. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, organisasi mahasiswa ini dihadapkan pada pekerjaan besar: menjaga nyala idealisme, memperkuat daya intelektual, serta memastikan bahwa gerakan yang dibangun tidak pernah menjauh dari rakyat yang menjadi akar perjuangannya. (Tra)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini