-->

Menelusuri 120 Tahun Stasiun Rampah, Saksi Pergeseran Ekonomi dan Mobilitas Serdang Bedagai

Sebarkan:


Stasiun Rampah  sudah berdiri sejak dioperasikan pada 1903. (Hastara.id/Istimewa)
 
SERDANG BEDAGAI, HASTARA.ID — Lebih dari satu abad berdiri, Stasiun Rampah bukan sekadar bangunan tempat kereta berhenti. Sejak dioperasikan pada 1903, stasiun di pusat pemerintahan Kabupaten Serdang Bedagai itu telah menyaksikan perubahan pola mobilitas masyarakat, dari era pengangkutan hasil perkebunan hingga menjadi bagian dari aktivitas perjalanan warga masa kini.

Jejak sejarah Stasiun Rampah bermula pada masa Hindia Belanda ketika jaringan rel diperluas oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Saat itu, jalur kereta api memiliki peran penting dalam menghubungkan kawasan perkebunan dengan pusat distribusi dan Pelabuhan Belawan.

Kini, fungsi tersebut telah berubah. Kereta api tidak lagi sekadar menjadi sarana angkutan komoditas, tetapi berkembang menjadi moda transportasi publik yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai tujuan.

Manager Humas PT KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan perubahan fungsi tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pengguna jasa di Stasiun Rampah.

Data Januari-Juli menunjukkan, jumlah pelanggan pada 2024 mencapai 16.668 orang. Setahun kemudian angkanya melonjak menjadi 28.041 pelanggan atau tumbuh 68 persen. Hingga Januari-Juli 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 34.632 pelanggan, atau bertambah 24 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa kereta api semakin dipercaya masyarakat sebagai moda transportasi massal yang aman, nyaman, selamat, dan tepat waktu,” kata Anwar.

Saat ini Stasiun Rampah melayani perjalanan KA Putri Deli dan KA Siantar Ekspres. Pada waktu tertentu, stasiun tersebut juga melayani KA Sribilah Fakultatif relasi Medan–Rantauprapat pulang-pergi.

Bagi KAI, peningkatan mobilitas tersebut bukan hanya soal jumlah penumpang. Stasiun Rampah juga dipandang memiliki posisi strategis dalam mendukung akses masyarakat terhadap potensi wisata, budaya, dan perekonomian Serdang Bedagai.

“Sejak awal dioperasikan pada 1903, kereta api memiliki keterikatan erat dengan pertumbuhan wilayah di Sumatera Utara. Jika dahulu banyak mendukung distribusi hasil perkebunan, kini perannya berkembang menjadi sarana mobilitas utama masyarakat,” ujar Anwar.

Menurutnya, peningkatan kepercayaan publik menjadi alasan KAI terus memperbaiki pelayanan agar Stasiun Rampah tidak berhenti sebagai saksi sejarah, tetapi tetap relevan menghadapi kebutuhan mobilitas masyarakat di masa depan. (tra)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini