-->

Petang Belimau dan Megang Puasa Jelang Ramadan: Tradisi Melayu Yang Tetap Lestari di Medan

Sebarkan:

 

Ilustrasi foto tradisi Melayu yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini di Kota Medan versi Artificial Intellegence atau AI. Istimewa/Hastara.id
MEDAN, HASTARA.ID — Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Melayu di Kota Medan kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang sarat makna spiritual dan nilai kebersamaan. Melalui kegiatan Petang Belimau dan Megang Puasa, warisan budaya tersebut tidak hanya dirayakan, juga ditegaskan sebagai identitas yang terus dijaga lintas generasi.

Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama masyarakat Kedatukan Sunggal menggelar kegiatan tersebut, Kamis (12/2), di Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman, Jalan Sunggal Pekan Nomor 2, Kecamatan Medan Sunggal. 

Tradisi Megang Puasa menjadi salah satu rangkaian utama dalam menyambut Ramadan. Kegiatan ini identik dengan makan bersama keluarga besar dan kerabat dekat. Namun, lebih dari sekadar santap bersama, Megang Puasa mengandung pesan mendalam tentang pentingnya mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, serta saling memaafkan sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Momentum tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Kebersamaan yang terjalin diharapkan menjadi bekal dalam menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.

Sementara itu, tradisi Mandi Belimau atau Petang Belimau melambangkan proses penyucian diri. Ritual ini dilakukan dengan mandi menggunakan air yang dicampur jeruk limau dan wangi-wangian. Secara simbolis, air limau dipercaya membawa kesegaran dan keharuman yang merepresentasikan kebersihan hati serta kesiapan spiritual dalam menyongsong masuknya bulan suci. 

Tradisi ini umumnya dilaksanakan di sungai, laut, atau lokasi tertentu yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat setempat. Dalam konteks kekinian, kegiatan tersebut juga menjadi ajang edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal akar tradisinya.

Kehadiran pemerintah dalam penyelenggaraan kegiatan ini menunjukkan komitmen terhadap pelestarian kearifan lokal. Di tengah arus modernisasi, Megang Puasa dan Mandi Belimau dinilai tetap relevan sebagai sarana memperkuat identitas budaya sekaligus memperdalam penghayatan nilai-nilai keagamaan.

Pelestarian tradisi ini pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan terus diwariskan sebagai bagian dari khazanah budaya Melayu dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. (rel)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini