![]() |
| Rico Waas dan Zakiyuddin Harahap terus mendapat sorotan publik atas kinerja mereka sudah setahun memimpin Kota Medan tanpa perubahan signifikan. Istimewa/Hastara.id |
Oleh: FARID WAJDI
SATU tahun kepemimpinan Wali Kota Rico Waas dan Wakilnya Zakiyuddin Harahap menandai perjalanan janji kampanye Medan Bertuah. Sekilas, visi Berbudaya, Energik, Ramah, Tertib, Unggul, Aman, dan Humanis terdengar megah. Namun realitas sehari-hari warga kota menegaskan pertanyaan tajam: Apakah Medan benar-benar bertuah atau sekadar kota janji yang gemerlap di media sosial?
Pendidikan dan pemuda menjadi contoh paling mencolok dari jurang janji dan kenyataan. Sekolah gratis sebagian hanya menyentuh lapisan terbatas warga miskin, sedangkan pusat kreativitas yang seharusnya menjadi laboratorium inovasi bagi generasi Z dan milenial lebih banyak hadir sebagai panggung citra. Janji menjadikan Medan kota inovator lebih mirip slogan kampanye daripada strategi nyata. Ruang publik untuk kreativitas generasi muda masih minim, tetapi video promosi dan posting Instagram terus memamerkan keberhasilan yang jarang disentuh warga biasa.
Bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial juga menunjukkan ketidakselarasan janji dan aksi. Layanan gratis masih tersedia, tetapi penguatan perlindungan pekerja melalui BPJS Ketenagakerjaan dan pemberdayaan kepala lingkungan berjalan lamban. Warga tetap kesulitan mengakses informasi dan fasilitas, memperlihatkan bahwa janji politis belum diterjemahkan menjadi kenyataan konkret.
Janji membuka 50.000 lapangan kerja dan mendukung UMKM tampak seperti angka impresif di media, tetapi kenyataan berbeda. Investasi yang masuk ke Medan, meski nominalnya besar, belum memberi dampak nyata bagi ekonomi warga menengah ke bawah. Program digitalisasi dan sertifikasi halal UMKM hanya menyentuh sebagian kecil pelaku usaha, sementara evaluasi keberhasilan nyaris tak terlihat.
Dekorasi Citra Kepemimpinan
Lingkungan dan ketertiban kota menjadi sorotan paling menohok. Sampah masih berserakan meski camat dan OPD sudah mendapat ultimatum, banjir tetap menghantui karena drainase stagnan, air bersih masih sulit diakses di beberapa wilayah. Ketertiban kota, janji utama Medan Bertuah, berubah menjadi ironi visual: kota metropolitan dengan lalu lintas kacau, parkir liar, dan sistem pengelolaan PAD yang bocor di setiap sudut. Metro sosial dan media menyoroti citra heroik, tetapi warga menatap kenyataan yang jauh dari tertib.
Keamanan publik juga belum memuaskan. Program penanganan begal dan geng motor lewat pembinaan remaja dan tindakan hukum tegas berjalan parsial. Kasus kriminalitas tetap terjadi, membuktikan gap nyata antara retorika dan hasil. Program Curhat dan SAPA KOTA hadir, tetapi respons terhadap keluhan warga lamban, seolah aspirasi masyarakat hanya menjadi dekorasi bagi citra kepemimpinan.
Analisis tajam menunjukkan satu tahun pertama duet ini lebih banyak dihabiskan untuk headline media dan publikasi Instagram ketimbang hasil nyata. Program simbolik, janji angka besar, dan jargon aspiratif menutupi kelemahan struktural kota: parkir tak tertata, PAD bocor, sampah berserakan, keamanan setengah hati, dan inovasi anak muda terhambat.
Warga kini dihadapkan pada paradoks: slogan Medan Bertuah terdengar megah di media, tetapi realitas sehari-hari mengajarkan ironi pahit. Satu tahun kepemimpinan duet Rico-Zakiyuddin menegaskan satu hal jelas: janji bisa dibilang mudah, tetapi membuat kota benar-benar bertuah memerlukan aksi nyata, fokus, dan keberanian mengeksekusi lebih dari sekadar citra. Tanpa itu, Medan tetap kota janji, bukan kota yang berbudaya, tertib, dan unggul bagi warganya. (*)
***Penulis merupakan Founder Ethics of Care/Anggota Komisi Yudisial 2015-2020
